Bisnis

Lo Kheng Hong Jual 8,19 Juta Saham SIMP, Memicu Gelombang Penjualan Asing Rp2,9 Triliun di Bursa

×

Lo Kheng Hong Jual 8,19 Juta Saham SIMP, Memicu Gelombang Penjualan Asing Rp2,9 Triliun di Bursa

Share this article
Lo Kheng Hong Jual 8,19 Juta Saham SIMP, Memicu Gelombang Penjualan Asing Rp2,9 Triliun di Bursa
Lo Kheng Hong Jual 8,19 Juta Saham SIMP, Memicu Gelombang Penjualan Asing Rp2,9 Triliun di Bursa

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 27 April 2026 | Jakarta, 26 April 2026 – Pada pertengahan April, Lo Kheng Hong, salah satu pemegang saham utama PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), mengeksekusi penjualan sebanyak 8,189,500 saham. Transaksi tersebut menghasilkan nilai sekitar Rp7,54 miliar dan menurunkan kepemilikan langsungnya menjadi 771,017,500 saham atau sekitar 4,97% dari total saham beredar.

Penjualan Lo Kheng Hong terjadi dalam dua tahap pada 14 April 2026. Pertama, ia melepaskan 1,377,000 saham dengan harga Rp925 per saham, diikuti dengan penjualan 6,812,000 saham pada harga Rp920 per saham. Tujuan utama transaksi dinyatakan untuk merealisasikan keuntungan, sesuai dengan catatan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Jumlah Saham Harga per Saham (Rp) Total Nilai (Rp Miliar)
1,377,000 925 1,27
6,812,000 920 6,27

Setelah transaksi tersebut, harga saham SIMP tercatat turun 5,23% menjadi Rp815 per lembar, sementara volume perdagangan harian mencapai 471,977 saham dengan nilai transaksi harian Rp39,1 miliar. Kinerja saham SIMP selama tahun berjalan mencatat kenaikan hampir 43%, namun tekanan pasar secara umum meningkat karena aksi jual masif oleh investor asing.

Tekanan dari Investor Asing

Pada minggu yang sama, investor asing di pasar modal Indonesia melanjutkan aksi jual yang signifikan. Data BEI mengungkapkan bahwa selama periode 20-24 April 2026, penjualan saham oleh asing mencapai nilai Rp2,95 triliun, melampaui pekan sebelumnya yang hanya Rp2,71 triliun. Total penjualan asing sepanjang tahun 2026 telah menumpuk hingga Rp42,80 triliun.

Faktor utama yang mendorong aksi jual tersebut adalah penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kenaikan dolar menurunkan daya beli investor asing terhadap aset berdenominasi rupiah, sementara yield US Treasury yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dibandingkan saham emerging market.

Pengamat pasar, Reydi Octa, menilai bahwa selain faktor eksternal, kelemahan struktural seperti free float yang rendah dan konsentrasi kepemilikan saham (high shareholding concentration) pada beberapa emiten menambah kerentanan pasar terhadap sentimen negatif. “Dari sisi domestik, pelemahan rupiah ke kisaran 17.000-an memperkuat persepsi risiko, sehingga investor asing memilih mengurangi eksposur,” ujarnya.

Akibat aksi jual asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 6,61% dalam seminggu, berakhir pada level 7.129,49. Kapitalisasi pasar Indonesia pun menyusut 6,59% menjadi Rp12,736 triliun.

Implikasi bagi Pasar Saham Indonesia

  • Penurunan kepemilikan Lo Kheng Hong dapat menurunkan likuiditas saham SIMP, mengingat posisinya sebagai pemegang saham signifikan.
  • Aksi jual asing menambah volatilitas pasar, terutama pada sektor-sektor dengan free float rendah.
  • Investor domestik dan institusi dihadapkan pada pilihan strategi defensif atau mencari peluang beli pada harga yang lebih rendah.

Meskipun tekanan jangka pendek meningkat, beberapa analis memperkirakan bahwa koreksi pasar dapat membuka peluang bagi investor yang memiliki pandangan jangka panjang, khususnya pada saham-saham dengan fundamental kuat seperti SIMP yang memiliki jaringan distribusi luas di sektor makanan dan minuman.

Keputusan Lo Kheng Hong untuk menjual sahamnya menunjukkan bahwa bahkan pemegang saham besar menilai kondisi pasar saat ini sebagai waktu yang tepat untuk merealisasikan keuntungan. Sementara itu, aksi jual asing menegaskan pentingnya faktor makroekonomi global dalam menentukan arah pergerakan pasar modal Indonesia.

Investor disarankan untuk memperhatikan perkembangan nilai tukar, kebijakan moneter AS, serta dinamika likuiditas di pasar domestik dalam merumuskan strategi investasi ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *