Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 26 April 2026 | China telah mengajukan rencana ambisius untuk meluncurkan sekitar 200 ribu satelit ke orbit rendah Bumi. Inisiatif ini dipandang sebagai upaya strategis untuk menyaingi layanan internet satelit milik Amerika Serikat, Starlink, yang dikelola oleh SpaceX. Permohonan tersebut diserahkan kepada Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU), badan khusus Perserikatan Bangsa‑Bangsa yang mengatur alokasi pita frekuensi radio dan posisi orbit satelit.
Menurut data ITU, sebuah institusi penelitian di Provinsi Hebei mengajukan penempatan sebanyak 193.400 satelit pada Desember lalu. Pada tahun yang sama, perusahaan komunikasi di Beijing dan Shanghai juga meminta izin untuk meluncurkan setidaknya 10.000 satelit. Total permohonan hampir menyentuh angka 200 ribu unit, menandakan skala proyek yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Starlink saat ini mengoperasikan kira‑kira 10.000 satelit dan telah menjadi jaringan internet berkecepatan tinggi yang dapat diakses melalui perangkat portabel. Layanan tersebut tidak hanya dipakai secara komersial, tetapi juga telah menjadi aset strategis dalam konflik, contohnya di Ukraina untuk mempertahankan komunikasi di tengah invasi Rusia. Dengan jumlah satelit yang jauh lebih besar, China tampaknya ingin menciptakan jaringan domestik yang tidak bergantung pada infrastruktur asing.
Motivasi di balik rencana ini bersifat ganda. Secara ekonomi, jaringan satelit masif dapat membuka akses internet ke daerah terpencil, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat posisi China dalam pasar teknologi global. Dari sudut geopolitik, Beijing khawatir bahwa sistem seperti Starlink dapat memperkuat kemampuan intelijen dan komunikasi Amerika Serikat di wilayah sensitif sekitar Selat Taiwan. Penelitian yang dilakukan di Beijing terhadap cara kerja Starlink di Taiwan menegaskan kekhawatiran akan potensi pengintaian dan dukungan militer yang dapat dimungkinkan oleh jaringan tersebut.
Namun, para pengamat menilai rencana peluncuran 200 ribu satelit tidak realistis secara teknis. Profesor Kazuto Suzuki dari Universitas Tokyo menyatakan bahwa angka tersebut “tak realistis” dan lebih merupakan demonstrasi kemampuan teknologi China daripada proyek yang dapat direalisasikan dalam waktu dekat. Tantangan utama meliputi ketersediaan peluncur, pengelolaan lalu lintas orbit, serta penanganan limbah antariksa.
Rencana ini sejalan dengan agenda lima tahun China hingga 2030, yang menekankan pengembangan teknologi ruang angkasa, termasuk program pendaratan manusia di Bulan pada tahun 2030 dan misi eksplorasi Mars yang dijadwalkan pada 2028. Penguatan jaringan satelit dipandang sebagai komponen kunci untuk mendukung operasi militer, penelitian ilmiah, dan layanan sipil di masa depan.
Berikut adalah beberapa poin utama dari rencana peluncuran satelit China:
- Permohonan alokasi pita frekuensi dan slot orbit melalui ITU.
- Target total sekitar 200 ribu satelit, dengan 193.400 dari institusi Hebei dan 10.000+ dari perusahaan swasta.
- Tujuan strategis: mengurangi ketergantungan pada layanan luar negeri, memperkuat keamanan siber, dan meningkatkan kemampuan komunikasi di wilayah perbatasan.
- Kontroversi teknis: kebutuhan peluncur, manajemen orbit, dan risiko sampah antariksa.
- Hubungan dengan agenda nasional: mendukung program antariksa ambisius, termasuk pendaratan di Bulan dan eksplorasi Mars.
Secara keseluruhan, meskipun ambisi China untuk meluncurkan 200 ribu satelit tampak menantang, langkah ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika persaingan antariksa global. Baik dalam konteks komersial maupun keamanan, proyek tersebut dapat mengubah peta kekuasaan di ruang angkasa dan menambah tekanan pada pemain lama seperti SpaceX.









