Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 25 April 2026 | Jakarta, 25 April 2026 – Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan hunian bantaran rel di kawasan Stasiun Pasar Senen pada Sabtu pagi. Bersama Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bapak Bobby Rasyidin, Teddy memantau progres konstruksi yang dijanjikan akan selesai dalam hitungan minggu.
Peninjauan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang pada akhir Maret lalu melakukan blusukan ke kawasan Senen. Presiden menegaskan pentingnya menyediakan tempat tinggal yang layak bagi ribuan warga yang selama puluhan tahun hidup di pinggir rel kereta api, tanpa atap memadai, air bersih, atau fasilitas MCK.
Menurut pernyataan Teddy dalam unggahan resmi akun Instagram @sekretariat.kabinet, proyek hunian ini tidak hanya sekadar memindahkan warga, melainkan memberikan lingkungan yang lengkap dengan infrastruktur dasar. “Lokasi hunian baru terletak sekitar 500 meter dari rel Pasar Senen, dilengkapi dengan MCK, air bersih, tempat ibadah, arena bermain anak, serta ruang terbuka hijau,” ujar ia.
Fasilitas yang telah siap atau dalam tahap akhir pembangunan meliputi:
- Unit hunian sementara (huntara) berjumlah 324 unit, masing‑masing dilengkapi dua tempat tidur, lemari, kipas angin, dan meja belajar.
- Fasilitas sanitasi MCK yang terhubung ke jaringan PDAM setempat.
- Jaringan listrik dan telekomunikasi yang dijamin oleh PLN dan Telkom.
- Area ibadah (musala) yang dapat menampung hingga 150 jamaah.
- Arena bermain anak dengan peralatan keselamatan standar.
- Ruang makan bersama, dapur umum, dan area hijau untuk kegiatan komunitas.
Proses pembangunan berlangsung cepat berkat kolaborasi intens antara Kementerian Perumahan dan Permukiman (Kemen PUPR) serta sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait, termasuk PT KAI, PT Perumahan Nasional (Persero) dan PT PLN (Persero). Teddy menegaskan, “Kerja sama yang erat antara kementerian dan BUMN memungkinkan percepatan realisasi proyek tanpa mengorbankan kualitas.”
Selain meninjau fisik bangunan, Teddy juga berdialog langsung dengan warga yang telah dipindahkan sementara ke hunian sementara. Banyak di antara mereka menyatakan rasa lega karena kini tidak lagi harus tinggal di bawah bayang‑bayang kereta yang beroperasi 24 jam. “Dulu kami hanya punya atap seadanya, air bersih harus dibeli tiap hari, dan tidak ada tempat ibadah. Sekarang ada harapan baru,” kata seorang warga senior.
Presiden Prabowo Subianto, yang sempat mengunjungi lokasi pada 26 Maret 2026, dipastikan akan terus memantau progres. Dalam rapat internal setelah kunjungan, Presiden meminta agar target penyelesaian hunian baru tercapai paling lambat 15 Juni 2026. Menanggapi hal tersebut, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait (Ara) menyampaikan bahwa semua pihak sedang mengatasi kendala teknis, terutama terkait penyambungan PDAM, PLN, dan jaringan telekomunikasi.
Keberhasilan proyek hunian bantaran rel Senen diharapkan menjadi model bagi program penataan permukiman serupa di wilayah lain, terutama di kawasan kumuh yang berdekatan dengan jaringan transportasi publik. Teddy menutup peninjauan dengan menekankan pentingnya kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat: “Penataan pemukiman menjadi lebih layak akan kami lakukan secara bertahap dan berkala di seluruh Indonesia.”
Dengan dukungan politik tinggi, alokasi anggaran yang cukup, serta sinergi lintas sektor, proyek hunian bantaran rel Senen menjadi contoh konkret upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup warga pinggiran rel kereta api, sekaligus memperkuat citra pembangunan berkelanjutan di ibu kota.









