Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 03 Agustus 2026 | Pelaku pasar aset kripto masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat setelah bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), kembali mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan tersebut membuat harga Bitcoin relatif stabil karena sesuai dengan ekspektasi pasar.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian mengatakan harga Bitcoin cenderung bertahan setelah hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) diumumkan. Menurut dia, pasar kini lebih memperhatikan sinyal kebijakan moneter berikutnya dibandingkan sekadar keputusan mempertahankan suku bunga.
"Bagi pasar, yang terpenting bukan hanya apakah suku bunga dinaikkan atau dipertahankan, tetapi juga seberapa besar kepastian yang diberikan terhadap arah kebijakan berikutnya," ujar Aloysia dalam keterangannya.
Ia mengatakan harga Bitcoin di platform Indodax bergerak pada kisaran Rp1,15 miliar hingga Rp1,172 miliar setelah pengumuman hasil rapat FOMC. Menurut Aloysia, minimnya volatilitas setelah keputusan The Fed menunjukkan bahwa kebijakan tersebut telah diantisipasi pelaku pasar.
Sentimen pasar saat ini dibentuk oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk prospek ekonomi global dan arah kebijakan moneter ke depan. Ia menjelaskan kebijakan suku bunga The Fed memengaruhi likuiditas global, biaya pendanaan, serta preferensi investor terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto.
Karena itu, setiap perubahan arah kebijakan moneter AS umumnya turut memengaruhi pergerakan harga Bitcoin. Meski demikian, Aloysia mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan berdasarkan fluktuasi harga jangka pendek.
"Oleh karena itu, investor sebaiknya tetap disiplin menjalankan strategi investasinya dan tidak terpaku pada fluktuasi harga dalam jangka pendek, tetapi tetap disiplin menjalankan strategi investasi sesuai tujuan dan profil risikonya," katanya.
Dalam kondisi pasar yang masih dinamis, Aloysia menilai strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dapat menjadi salah satu pilihan karena memungkinkan investor berinvestasi secara berkala dengan nominal tetap sehingga membantu mengurangi risiko akibat volatilitas harga.
Sementara itu, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan pekan depan, karena meningkatnya tensi geopolitik global hingga potensi perubahan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Indonesia, mulai dari neraca perdagangan, inflasi, PMI manufaktur, cadangan devisa, hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), yang dinilai berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Di sisi lain, emas global bergerak stabil di atas US$4.100 per troy ounce, didukung oleh pelemahan dolar AS. Namun, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat yang lebih tinggi dapat menekan harga emas. Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan fokus utama Bank Indonesia saat ini adalah menjaga stabilitas ekonomi di tengah tingginya ketidakpastian global.
Destry menambahkan bahwa BI harus menyiapkan bauran kebijakan yang tepat untuk menghadapi dinamika ekonomi dunia yang berpotensi memengaruhi perekonomian domestik. Perkembangan suku bunga global, pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat, hingga kondisi inflasi dunia akan memberikan dampak terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dengan demikian, keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, pelaku pasar dan investor harus tetap waspada dan disiplin dalam menjalankan strategi investasi mereka.











