Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 24 April 2026 | Program Kawal 40 ribu lansia resmi diluncurkan oleh Kementerian Agama pada awal 2026 sebagai respons meningkatnya jumlah jemaah haji lansia yang membutuhkan pendampingan khusus. Target utama program ini adalah memastikan setiap lansia yang berangkat ke Tanah Suci mendapatkan pengawasan kesehatan, dukungan psikologis, dan layanan logistik yang memadai selama seluruh rangkaian ibadah.
Kasus yang menarik perhatian publik terjadi pada Rabu, 22 April 2026, ketika seorang nenek berusia 75 tahun bernama Masuah Marup Mawi, asal Banten, tiba-tiba meminta untuk pulang saat menunggu penerbangan di Bandara Soekarno‑Hatta. Masuah, yang berada dalam rombongan kloter pertama Embarkasi Banten, awalnya duduk di kursi roda namun kemudian berdiri, berjalan menuju petugas, dan mengucapkan singkat, “Mau pulang.”
Petugas haji yang bertugas langsung menanggapi dengan sigap. Siti Nurlela, salah satu petugas pendamping, menjelaskan bahwa Masuah berangkat tanpa didampingi keluarga, sehingga tim rombongan harus melakukan pemantauan intensif. “Berangkat sendiri tidak bersama keluarga, jadi kami harus mengenali kondisi khususnya. Ketika ada tanda-tanda kebingungan atau kelelahan, kami langsung menenangkan dan mengarahkan kembali ke tempat duduk,” kata Siti.
Langkah-langkah yang diambil petugas mencakup:
- Pemeriksaan kesehatan awal di bandara, termasuk tes tekanan darah dan gula darah.
- Pemberian kartu identitas khusus yang mencatat riwayat medis, alergi, dan kebutuhan khusus.
- Penempatan petugas kesehatan dan pendamping sosial pada setiap rombongan, dengan rasio maksimal satu pendamping per lima lansia.
- Pelatihan intensif bagi petugas haji tentang penanganan demensia, mobilitas terbatas, dan situasi darurat.
Selain penanganan darurat, program Kawal 40 ribu lansia juga menyiapkan fasilitas khusus di dalam pesawat dan di Mina. Setiap kabin dilengkapi dengan kursi roda, penyangga leher, serta ruang istirahat yang dapat diakses oleh lansia. Di Mina, tersedia pos kesehatan yang buka 24 jam, serta tim relawan yang siap membantu kebutuhan sehari-hari.
Data resmi menunjukkan bahwa pada tahun 2026 diperkirakan akan ada lebih dari 40.000 jemaah haji lansia yang berangkat, meningkat 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar berasal dari Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah, wilayah dengan populasi lansia tertinggi. Berikut tabel ringkasan distribusi target per provinsi:
| Provinsi | Target Lansia |
|---|---|
| Jawa Barat | 12.000 |
| Banten | 8.500 |
| Jawa Tengah | 7.200 |
| Jawa Timur | 6.300 |
| Sumatera Utara | 3.000 |
Keberhasilan program ini sangat tergantung pada koordinasi antara Kementerian Agama, rumah sakit, dan organisasi keagamaan. Menurut dr. Ahmad Fauzi, dokter kesehatan haji, “Pengawasan yang ketat dan pendampingan yang bersifat personal dapat mengurangi risiko komplikasi medis pada lansia, terutama mereka yang memiliki demensia atau penyakit kronis.”
Kejadian Masuah Marup Mawi menjadi contoh konkret bahwa kebijakan tidak hanya bersifat teoretis, melainkan sudah diimplementasikan secara langsung di lapangan. Meskipun nenek tersebut akhirnya diputuskan untuk tetap melanjutkan ibadah setelah mendapatkan penilaian medis lebih lanjut, respons cepat petugas menunjukkan kesiapan sistem dalam menghadapi situasi serupa.
Dengan komitmen untuk melayani maksimal, petugas haji 2026 diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh jemaah haji lansia. Pengawasan yang ketat, fasilitas yang ramah lansia, serta tenaga medis yang siap sedia menjadi fondasi utama dalam mewujudkan ibadah haji yang aman, sehat, dan khusyuk bagi generasi senior Indonesia.











