Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 13 Juli 2026 | Pemerintah Kabupaten Bulungan menetapkan 10 Proyek Strategis Daerah (PSD) Tahun Anggaran 2026 sebagai prioritas pembangunan untuk mempercepat pemerataan infrastruktur, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan memperkuat daya saing ekonomi daerah. Proyek-proyek tersebut berfokus pada pembangunan infrastruktur jalan, penguatan sektor kesehatan, penataan kawasan perkotaan, pengelolaan lingkungan, serta pengembangan sektor pertanian.
Salah satu proyek yang menjadi prioritas adalah peningkatan ruas jalan yang menjadi akses penting masyarakat. Ketiga proyek tersebut meliputi peningkatan Jalan Simpang Poros Salimbatu–Sei Urang di Kecamatan Tanjung Palas dengan anggaran Rp 8,32 miliar, peningkatan Jalan Gunung Seriang–Peso (STA Gunung Ilanun) di Kecamatan Tanjung Palas Barat senilai Rp 6,95 miliar, serta peningkatan Jalan Simpang Padaelo–Sabanar Baru di Kecamatan Tanjung Selor sebesar Rp 4,41 miliar.
Di sektor pertanian, Pemkab Bulungan mengalokasikan anggaran Rp 1,62 miliar untuk pembangunan Jalan Usaha Tani bagi Kelompok Tani KM 56 dan KM 57 di Desa Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur. Selain itu, Danantara juga menggarap 26 proyek hilirisasi strategis nasional dengan total nilai investasi mencapai Rp 225 triliun, yang diproyeksikan mampu menyerap 37.833 tenaga kerja.
Proyek-proyek hilirisasi tersebut mencakup berbagai komoditas strategis, mulai dari sektor pertambangan seperti pembangunan smelter aluminium, baja nirkarat, dan tembaga, hingga sektor energi dan pangan melalui pengembangan fasilitas bioavtur, bioetanol, pengolahan kelapa sawit, industri kelapa, serta peternakan ayam terintegrasi. Pelaksanaan proyek dilakukan dalam dua fase, dengan Fase I yang dimulai melalui groundbreaking pada 6 Februari 2026, mencakup enam proyek prioritas di 13 lokasi dengan nilai investasi Rp 109 triliun.
Fase II, yang dimulai melalui groundbreaking pada 29 April 2026, meliputi 10 proyek prioritas di 13 lokasi dengan nilai investasi sebesar Rp 116 triliun. Proyek-proyek tersebut diharapkan mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri, membuka peluang kerja baru, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia.
Kemacetan panjang dan melelahkan di lintas penyeberangan Jawa-Bali masih menjadi momok bagi para pengguna jalan. Menanggapi situasi pelik ini, Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) mendesak pemerintah pusat untuk memasukkan proyek revitalisasi Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN).
Ketua DPP Gapasdap Khoiri Soetomo menegaskan bahwa kemacetan di lintasan Jawa Timur menuju Bali, NTB, hingga NTT ini sudah masuk dalam kategori extraordinary heavy traffic jam. Ia pun mempertanyakan komitmen pemerintah yang dinilai menganakemaskan infrastruktur jalan ketimbang pelabuhan.
Gapasdap mengusulkan pembuatan masterplan penyeberangan yang visioner. Dengan total 56 kapal yang beroperasi saat ini, idealnya Pelabuhan Ketapang memiliki minimal 14 pasang dermaga. Sebagai solusi jangka panjang, Gapasdap mengusulkan pembuatan masterplan penyeberangan yang visioner.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang-Gilimanuk, Arief Eko Kurniansjah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan rencana strategis peningkatan kapasitas dermaga pada tahun 2026 ini, fokus dari yang semula berkapasitas 30 ton ditingkatkan menjadi 50 ton.
Kesimpulan: Proyek Strategis Nasional menjadi salah satu prioritas pembangunan untuk mempercepat pemerataan infrastruktur, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan memperkuat daya saing ekonomi daerah. Dengan total nilai investasi yang besar, proyek-proyek tersebut diharapkan mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri, membuka peluang kerja baru, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia.











