Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 13 Juli 2026 | Gelombang panas ekstrem telah melanda sebagian wilayah Amerika Serikat, khususnya di kawasan tengah hingga Pegunungan Rocky, dan mencetak rekor suhu tertinggi dalam sejarah pengamatan cuaca di beberapa kota. Pada Minggu, 12 Juli 2026, suhu udara di Salt Lake City, ibu kota negara bagian Utah, dan Billings, kota terbesar di Montana, mencapai 43 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya.
Badan cuaca setempat memperkirakan suhu tinggi masih akan bertahan setidaknya hingga Selasa. Gelombang panas ini juga memperburuk kebakaran hutan besar yang masih berkobar di Colorado dan Utah. Sementara itu, di Indonesia, beberapa wilayah juga mengalami suhu panas yang ekstrem, dengan Kabupaten Pidie menjadi yang terpanas dengan suhu maksimum menyentuh 35,0°C pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), rata-rata suhu puncak di sepuluh wilayah terpanas berada di kisaran 30,6°C. Wilayah Banten mendominasi daftar dengan 4 kota/kabupaten. Penguatan Monsun Australia memicu cuaca terik siang hari di wilayah Indonesia sepekan terakhir, dengan suhu maksimum dapat mencapai 37,1°C.
Suhu ekstrem juga telah melanda beberapa kota besar di Indonesia, seperti Makassar, dengan prakiraan cuaca siang-sore cerah berawan dan suhu udara diprediksi berada di kisaran 18-34°C. Cuaca di Kota Makassar dan sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan diprediksi cerah berawan, dengan beberapa wilayah berpotensi hujan ringan.
Kondisi cuaca panas ini diperkirakan masih akan bertahan hingga Selasa. Fenomena ini terjadi hanya sepekan setelah wilayah timur AS dilanda gelombang panas lain yang mendorong suhu di kota-kota besar seperti New York dan Philadelphia mendekati 40 derajat Celsius. Para ilmuwan mengaitkan tren tersebut dengan perubahan iklim yang dipicu emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.
Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang panas tercatat semakin sering terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi di berbagai belahan dunia. Dampak gelombang panas juga dirasakan di kawasan lain, seperti Eropa Barat yang baru saja mencatat bulan Juni terpanas sepanjang sejarah pencatatan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), cuaca ekstrem tersebut menyebabkan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia di Eropa.
Kesimpulan, gelombang panas melanda beberapa wilayah di Amerika Serikat dan Indonesia, dengan suhu mencapai rekor tertinggi dalam sejarah pengamatan cuaca. Kondisi cuaca panas ini diperkirakan masih akan bertahan hingga Selasa, dan berdampak pada kebakaran hutan besar dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya mitigasi dan adaptasi untuk menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem.











