Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 23 April 2026 | Kebutuhan mobil diesel bekas di Indonesia mulai menunjukkan tanda penurunan yang signifikan. Penurunan ini dipicu oleh dua faktor utama: munculnya teknologi hybrid yang semakin diminati konsumen, serta kenaikan tajam harga solar non‑subsidi yang memengaruhi biaya operasional kendaraan diesel.
Peter, pengelola Lapak Mobil di Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, mengakui bahwa minat konsumen terhadap mobil diesel bekas tidak lagi setinggi dulu. “Rada kurang sih (mobil diesel bekas) sebenarnya karena pengaruh hybrid ya. Jadi peminat diesel berkurang sekarang,” ujarnya kepada media pada 20 April 2026. Menurutnya, tren penurunan sudah terasa sejak mobil hybrid mulai hadir di pasar Indonesia, dan dampaknya paling terasa pada model-model diesel populer seperti Toyota Innova Diesel, Toyota Fortuner Diesel, serta Mitsubishi Pajero Sport Diesel.
Berikut beberapa model diesel yang sebelumnya menjadi primadona di pasar mobil bekas:
- Toyota Innova Diesel
- Toyota Fortuner Diesel
- Mitsubishi Pajero Sport Diesel
Meski permintaan menurun, Peter menekankan bahwa ada periode tertentu dimana minat terhadap mobil diesel bekas kembali menguat, terutama saat musim mudik dan akhir tahun. “Di bulan Lebaran, bulan akhir tahun, permintaan mobil diesel biasanya naik. Karena kan mungkin orang diesel udah enggak takut dan khawatir. Terus ke arah Jawa juga solar‑nya banyak,” jelasnya.
Faktor fungsional tidak menjadi satu‑satunya alasan. Gengsi dan citra kuat kendaraan diesel, terutama model seperti Innova, Fortuner, dan Pajero, masih menjadi nilai jual bagi konsumen yang ingin menonjolkan status saat pulang kampung. “Konsumen juga lebih pede kayak pakai Innova, Fortuner, atau Pajero, kan bawa pulang ke kampung halaman juga lebih prestise,” tambah Peter.
Di sisi lain, pasar mobil diesel bekas juga merasakan dampak langsung dari kenaikan harga solar non‑subsidi. Harga BBM diesel yang naik hampir dua kali lipat dibandingkan kenaikan sebelumnya menyebabkan konsumen lebih berhati‑hati dalam keputusan pembelian. “Perkiraan saya bakal susah lagi jual mobil diesel bekas. Pasti konsumen juga enggak mau kalau bahan bakarnya naik,” ungkapnya.
Peter melaporkan bahwa penjualan bulanan mobil diesel bekas menurun drastis. Dari biasanya dapat menjual lima unit per bulan, kini hanya dapat menutup dua unit. Ia memperkirakan penurunan total bisa mencapai 40 persen jika tren harga solar tetap tinggi. “Baru kali ini kan BBM naiknya drastis biasanya cuma Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu. Ini kan sampai Rp 10 ribu lebih,” kata Peter.
Selain tekanan harga bahan bakar, tren elektrifikasi kendaraan juga menggeser selera konsumen. Mobil hybrid dan listrik mulai menjadi pilihan utama bagi pembeli yang mengutamakan efisiensi bahan bakar serta dampak lingkungan. Pada tahun 2026, pasar otomotif Indonesia mencatat peningkatan penjualan hybrid dan PHEV (Plug‑in Hybrid Electric Vehicle) yang signifikan, menandakan pergeseran pola konsumsi.
Secara keseluruhan, pasar mobil diesel bekas berada pada fase penyesuaian. Meskipun terdampak oleh dua tekanan utama—kenaikan harga solar dan popularitas kendaraan hybrid—segmen ini masih memiliki ceruk pasar, terutama untuk kebutuhan perjalanan jarak jauh dan musim-musim tertentu seperti mudik. Pelaku usaha di pasar mobil bekas perlu menyesuaikan strategi, misalnya dengan menawarkan paket perawatan khusus atau mempromosikan keunggulan daya tahan mesin diesel untuk menarik kembali konsumen yang sensitif terhadap harga bahan bakar.
Dengan dinamika pasar yang terus berubah, pemantauan tren harga BBM, kebijakan pemerintah terkait subsidi, serta perkembangan teknologi kendaraan menjadi kunci bagi para penjual mobil diesel bekas untuk tetap kompetitif di tengah persaingan yang semakin ketat.











