Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 26 Juni 2026 | Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, saat ini menghadapi tantangan serius dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Data dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Kuningan menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak telah meningkat signifikan pada periode tahun 2024 hingga 2025. Pada tahun 2024, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 135 kasus, dengan rincian 33 kasus menimpa perempuan dan 102 kasus menimpa anak.
Jumlah tersebut melonjak pada tahun 2025 menjadi 253 kasus, yang terdiri dari 62 kasus perempuan dan 191 kasus anak. Berdasarkan data terbaru pada tahun 2026 hingga bulan Mei, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak telah mencapai 75 kasus, dengan rincian 26 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 49 kasus kekerasan terhadap anak.
Kasubag Tata Usaha UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Euis, menjelaskan bahwa dalam kurun waktu dua tahun terakhir, tren kasus kekerasan tersebut memang menunjukkan kenaikan. Euis memaparkan bahwa mayoritas kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tersebut cukup beragam, mulai dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), tawuran, hingga kekerasan seksual.
Khusus untuk fenomena KDRT, menurutnya, mayoritas dipicu oleh faktor ekonomi. Sementara itu, untuk kasus kekerasan terhadap anak, Euis melanjutkan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah pengaruh media sosial. Menurutnya, banyak anak yang terlibat dalam tindakan kekerasan seperti tawuran karena terinspirasi dari konten media sosial atau permainan daring (game) yang dikonsumsi sehari-hari.
Di sisi lain, Kabupaten Kuningan juga memiliki tokoh yang berdedikasi dalam masyarakat, seperti Asep Z. Fauzi, yang baru saja dilantik sebagai pengurus BAZNAS Kabupaten Kuningan periode 2026-2031. Asep Z. Fauzi merupakan putra asli Kuningan yang aktif di berbagai organisasi dan memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat.
Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, juga menjadi contoh desa yang sukses mengembangkan potensi lokal menjadi ladang rupiah. Desa ini telah mengembangkan Sawah Lope dan Bumi Perkemahan (Buper) Bukit Panagaran sebagai destinasi wisata yang menarik dan membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Namun, kasus kekerasan dan kriminalitas masih menjadi perhatian serius di Kabupaten Kuningan. Baru-baru ini, seorang pria berinisial B, warga Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, ditangkap setelah menganiaya pria yang diduga menjadi selingkuhan istrinya hingga tewas di kawasan Taman Kota Kuningan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan kerja sama yang erat antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat. Dengan demikian, Kabupaten Kuningan dapat menjadi daerah yang lebih aman dan nyaman bagi perempuan dan anak, serta masyarakat secara keseluruhan.











