Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 13 Juni 2026 | Inflasi sering dianggap sebagai kondisi ekonomi yang merugikan masyarakat. Namun, tahukah kamu bahwa tidak semua pihak dirugikan saat inflasi terjadi? Dalam kondisi tertentu, ada beberapa kelompok yang justru bisa memperoleh keuntungan dari kenaikan harga tersebut.
Salah satu pihak yang paling sering disebut diuntungkan saat inflasi adalah peminjam atau debitur. Hal ini terjadi karena nilai uang yang harus dikembalikan menjadi lebih rendah dibandingkan saat pertama kali meminjam. Sebagai contoh, seseorang meminjam uang sebesar Rp100 juta untuk jangka waktu lima tahun. Ketika inflasi terus meningkat selama periode tersebut, nilai riil uang Rp100 juta di masa depan tidak lagi sama dengan nilai Rp100 juta saat pinjaman diberikan.
Pemilik aset berwujud juga termasuk kelompok yang berpotensi mendapatkan keuntungan saat inflasi terjadi. Aset berwujud yang dimaksud antara lain tanah, properti, emas, hingga berbagai barang bernilai lainnya. Ketika harga-harga di pasar naik, nilai aset tersebut biasanya ikut mengalami kenaikan.
Pengusaha maupun pedagang juga bisa menjadi pihak yang diuntungkan dalam kondisi inflasi tertentu. Keuntungan ini biasanya muncul ketika mereka memiliki stok barang yang dibeli dengan harga lama sebelum kenaikan harga terjadi. Sebagai ilustrasi, seorang pedagang membeli stok produk saat harga masih rendah. Ketika inflasi menyebabkan harga barang di pasar meningkat, stok tersebut dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi.
Eksportir juga termasuk kelompok yang sering memperoleh manfaat dari inflasi, terutama jika kondisi tersebut diikuti pelemahan nilai mata uang lokal. Ketika harga barang di pasar internasional tetap stabil, pendapatan yang diterima eksportir dalam mata uang asing akan memiliki nilai yang lebih tinggi saat dikonversi ke mata uang lokal.
Nilai tukar mata uang suatu negara terhadap dolar AS banyak yang melemah. Salah satunya adalah rupiah Indonesia yang sempat menyentuh angka Rp 18.000 per dolar AS. Bagaimana dengan negara di Asia lainnya? Kondisi melemahnya mata uang mencerminkan tekanan ekonomi mendasar yang dihadapi oleh setiap negara.
Menurut data dari Open Exchange, beberapa mata uang terlemah di Asia per dolar AS adalah rial Iran, pound Lebanon, dan dong Vietnam. Nilai tukar USD 1 senilai dengan 1.376.000 rial Iran, 89.252 pound Lebanon, dan 26.332 dong Vietnam.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengumumkan usulan untuk merestrukturisasi ekonomi nasional pulau itu dan mendefinisikan kembali peran Kuba di pasar global di tengah sanksi ekonomi dan energi AS. Langkah-langkah yang diterapkan oleh pemerintahan Donald Trump terhadap Kuba telah meningkat, mendorong pemerintah yang dipimpin Partai Komunis untuk mencari solusi di luar model ekonomi tradisionalnya.
Bank Indonesia mencatat uang beredar di Indonesia tumbuh lebih tinggi pada bulan November 2024. Posisi M2 pada November 2024 tercatat sebesar Rp.9.175,8 triliun, atau tumbuh 7,0% (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,8% (yoy).
Kondisi ekonomi yang tidak stabil dapat mempengaruhi nilai mata uang suatu negara. Oleh karena itu, penting untuk memantau perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi nilai mata uang.
Kesimpulan, inflasi dapat mempengaruhi nilai mata uang suatu negara dan memiliki dampak yang berbeda-beda terhadap berbagai kelompok masyarakat. Peminjam, pemilik aset berwujud, pengusaha, dan eksportir dapat diuntungkan dalam kondisi inflasi tertentu. Namun, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi nilai mata uang dan kondisi ekonomi untuk membuat keputusan yang tepat.











