Ekonomi

Kurs Rupiah Melemah, Harga Obat Bisa Naik dan Dampaknya pada Ekonomi Indonesia

×

Kurs Rupiah Melemah, Harga Obat Bisa Naik dan Dampaknya pada Ekonomi Indonesia

Share this article
Kurs Rupiah Melemah, Harga Obat Bisa Naik dan Dampaknya pada Ekonomi Indonesia
Kurs Rupiah Melemah, Harga Obat Bisa Naik dan Dampaknya pada Ekonomi Indonesia

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 12 Juni 2026 | Kurs rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi memicu kenaikan harga obat-obatan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena sebagian besar bahan baku maupun komponen obat yang digunakan di Indonesia masih bergantung pada impor.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang, Prihatin Iman Nugroho, mengatakan bahwa potensi kenaikan harga obat memang ada karena biaya produksi, distribusi, dan rantai pasok yang sebagian masih berkaitan dengan komponen impor.

Menurut Prihatin, harga obat tidak hanya dipengaruhi biaya produksi, tetapi juga distribusi dan rantai pasok yang sebagian masih berkaitan dengan komponen impor. Karena itu, ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya yang harus ditanggung industri farmasi berpotensi meningkat dan berdampak pada harga jual obat di pasaran.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level psikologis 6.000. Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas tingginya kepercayaan investor global.

Dony menyoroti kinerja positif saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN), khususnya sektor pertambangan yang melesat hingga di kisaran 7 persen, sektor perbankan pelat merah (Himbara), dan Telkom, yang turut menopang kebangkitan IHSG.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat. Merujuk data Doo Financial Futures, rupiah dibuka menguat 0,29% ke level Rp17.935 per dolar AS.

BCA melanjutkan realisasi program pembelian kembali (buyback) saham Perseroan senilai maksimal Rp5 triliun. Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyatakan bahwa aksi korporasi ini merupakan lanjutan dari realisasi program buyback saham yang sebelumnya dilaksanakan pada April 2026.

BCA dinilai memiliki fundamental yang kuat dan lebih tahan menghadapi ketidakpastian dibandingkan emiten sejenis. BRI Danareksa Sekuritas menaikkan rekomendasi sektor perbankan menjadi Overweight karena harga saham dianggap sudah terlalu murah akibat koreksi.

Kesimpulan, melemahnya kurs rupiah berpotensi memicu kenaikan harga obat-obatan di Indonesia. Sementara itu, IHSG berhasil menembus level psikologis 6.000 dan BCA melanjutkan realisasi program buyback saham senilai maksimal Rp5 triliun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *