Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 09 Juni 2026 | Pasar negara berkembang saat ini menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal ketahanan ekonomi dan rantai pasok. Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang, berusaha untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui industrialisasi berbasis sumber daya alam.
Menurut laporan terbaru, Indonesia berhasil menjelma menjadi pemain utama dalam rantai pasok energi bersih global berkat kebijakan hilirisasi nikel yang dijalankan dalam beberapa tahun terakhir. Investasi besar mengalir ke sektor pengolahan nikel, baterai kendaraan listrik, hingga manufaktur kendaraan listrik.
Namun, laporan tersebut juga menyoroti paradoks dalam industri nikel Indonesia. Meski menjadi kekuatan besar dalam pengolahan nikel global, sebagian besar nilai tambah dari teknologi dan manufaktur lanjutan masih dinikmati negara lain. Produksi tambang nikel Indonesia diperkirakan mencapai 2,57 juta ton pada 2025 atau setara 61 persen pasokan nikel dunia.
Di sisi lain, Goldman Sachs menaikkan target indeks saham negara berkembang seiring permintaan AI. Langkah Goldman Sachs ini didorong pertumbuhan laba yang didorong oleh artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Goldman Sachs menaikkan target indeks acuan MSCI menjadi 2.000 dari 1.850.
Menko Airlangga juga memaparkan pendekatan Indonesia dalam memperkuat keamanan ekonomi dan ketahanan ekonomi nasional. Ia menyampaikan bahwa berbagai konflik global menunjukkan bahwa gangguan geopolitik dapat cepat berdampak pada rantai pasok, investasi, dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Indonesia disebut mampu menjaga ketahanan ekonomi dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada triwulan I tahun 2026, inflasi yang tetap terkendali, serta cadangan devisa yang kuat dan surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama lebih dari 70 bulan berturut-turut.
Presiden Prabowo Subianto resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam. Beleid ini terutama mengatur ekspor tiga komoditas utama, yakni kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi atau fero alloy secara terpusat melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Asosiasi Pertambangan Indonesia (API-IMA) menyebut pemerintah perlu melakukan transparansi dan mempercepat rencana tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis melalui DSI. Hal ini sangat penting dan jangan sampai ada kekosongan agar pasar batubara Indonesia di tingkat dunia tidak terganggu dan terisi oleh negara lain.
Kesimpulan, pasar negara berkembang saat ini menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal ketahanan ekonomi dan rantai pasok. Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang, berusaha untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui industrialisasi berbasis sumber daya alam.











