Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 20 April 2026 | Jakarta – Pasar logam mulia menunjukkan tren penguatan yang konsisten pada pekan depan setelah empat minggu reli berurutan. Mayoritas analis dan investor kembali mengadopsi sikap bullish, dipicu oleh peredaman ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta pembukaan kembali jalur perdagangan energi di Selat Hormuz.
Menurut Rich Checkan, Presiden dan COO Asset Strategies International, pergerakan harga emas akhir-akhir ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik. “Emas dan perak biasanya naik saat ada gencatan senjata, dan turun ketika konflik terbuka. Selama gencatan senjata yang rapuh antara AS‑Iran serta Israel‑Lebanon bertahan, logam mulia seharusnya terus pulih dari koreksi sebelumnya,” ujar Checkan dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh Kitco pada 19 April 2026.
Sebanyak 80 % analis Wall Street memperkirakan harga emas akan naik, sementara 70 % investor ritel melihat tren serupa. Dari sudut pandang teknikal, senior market analyst Barchart.com Darin Newsom menyoroti bahwa emas mendekati area resistensi penting pada rata‑rata pergerakan 50 hari di sekitar US$4.938, level yang belum ditembus sejak pertengahan Maret. Indikator stochastic harian menunjukkan kondisi jenuh beli dengan pembacaan di atas 90 %.
Meski demikian, Newsom mengakui bahwa indikator teknikal saat ini belum memberikan kepastian arah pasar yang jelas. “Jika harga tidak berhasil menembus US$4.900, kemungkinan besar akan terjadi koreksi jangka pendek,” pungkasnya.
Dari perspektif fundamental, volatilitas tinggi selama konflik telah mengurangi partisipasi spekulatif di pasar berjangka. Daniel Pavilonis, senior commodities broker di RJO Futures, menjelaskan bahwa banyak pelaku pasar keluar dari posisi ketika harga bergerak dalam rentang US$15. “Saat ini hanya tersisa hedger atau trader dengan leverage rendah yang tetap aktif,” tambahnya. Ia menilai bahwa penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menjadi sinyal penting perubahan sentimen, menandakan pergeseran ke fase risk‑on di mana investor kembali beralih ke saham.
Namun, Adam Button, Head of Currency Strategy di Forexlive, memandang emas berpotensi menjadi pemenang jangka menengah. “Negara‑negara berkembang yang memiliki cadangan emas besar dan impor minyak tinggi menghadapi risiko nilai tukar, sehingga mereka cenderung menjual emas untuk melindungi mata uang. Penurunan harga energi kini mengurangi tekanan tersebut, membuka peluang aliran dana kembali ke emas,” ujarnya. Button memperkirakan harga emas dapat kembali menguji level psikologis US$5.000 dalam waktu dekat.
Alex Kuptsikevich dari FxPro memperingatkan adanya potensi koreksi jangka pendek di tengah melambatnya momentum kenaikan. “Pasar harus berhati‑hati karena masih ada reaksi beli saat rumor, jual saat fakta,” katanya. Ia menilai bahwa pergerakan di atas US$4.900 akan membuka peluang kenaikan lanjutan, tetapi kegagalan menembus level tersebut dapat mengonfirmasi pembalikan tren.
Data teknikal terbaru menunjukkan bahwa emas telah memantul dari level terendah harian di US$4.767, namun belum berhasil menembus Simple Moving Average (SMA) 50‑hari di US$4.899. Pada saat penulisan artikel ini, pasangan XAU/USD berada di bawah level tertinggi 8 April di US$4.857, membuka peluang pullback sebelum kemungkinan lanjutan kenaikan.
Secara keseluruhan, faktor‑faktor berikut menjadi pendorong utama harga emas ke depan:
- Meredanya ketegangan geopolitik AS‑Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Penurunan imbal hasil obligasi AS 10‑tahun yang mengindikasikan pergeseran sentimen ke aset risiko.
- Ekspektasi negara‑negara berkembang untuk meningkatkan cadangan emas sebagai lindung nilai mata uang.
- Tekanan teknikal di sekitar level US$4.900‑US$5.000 yang dapat memicu pergerakan signifikan.
Jika semua faktor tersebut tetap mengarah pada stabilitas, harga emas berpotensi melanjutkan reli dan menguji level US$5.000 dalam beberapa minggu mendatang. Investor disarankan untuk memantau perkembangan geopolitik serta data ekonomi global sebagai indikator utama arah pasar logam mulia.
Dengan kombinasi dukungan fundamental dan teknikal, peluang harga emas untuk terus menguat menjadi sangat realistis dalam jangka menengah, terutama bila ketegangan AS‑Iran tetap berada pada level yang dapat dikelola.











