Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 04 Juni 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melemah sepanjang tahun 2026. Pada Kamis, 4 Juni 2026, IHSG ditutup melemah 1,70% ke level 5.839,78. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan sejumlah big caps, seperti TPIA, PANI, dan ASII.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah sebesar 1,70% atau 101,28 poin menuju 5.839,78. Indeks komposit hari ini dibuka pada level 5.919,56 dan sempat menyentuh posisi tertingginya di 5.924,50.
Tercatat, sebanyak 106 saham menguat, 623 saham turun, dan 85 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar mencapai Rp10.284,95 triliun.
Dari jajaran big caps, kenaikan masih dicatatkan saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sebesar 5,74% ke Rp3.500 dan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) tumbuh 1,75% menjadi Rp2.900 per saham.
Sementara itu, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) terkoreksi 14,86% ke Rp1.375, saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) turun 4,80% menjadi Rp6.450, dan saham PT Astra International Tbk (ASII) turun 4,34% ke Rp4.630.
Adapun saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) turun 4,20%, saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) melemah 3,85%, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) terkoreksi 3,10%.
IHSG diketahui terpuruk signifikan pada perdagangan sesi I seiring dengan melonjaknya tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menembus level psikologis baru di atas Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Mirae Asset Sekuritas, indeks komposit anjlok hingga 3,48% atau terpangkas ke level 5.734 pada akhir sesi pertama perdagangan.
Kejatuhan indeks acuan pasar modal domestik ini terjadi di tengah aksi jual masif atau panic selling yang melanda hampir seluruh sektor saham.
IHSG diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi pada perdagangan hari ini setelah kembali mencetak level terendah baru pada sesi sebelumnya.
Tim riset BRI Danareksa Sekuritas dalam publikasi Sapa Mentari edisi 4 Juni 2026 menyebutkan, IHSG ditutup melemah ke level 5.889 akibat kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan Indonesia.
Faktor utama yang membebani pasar antara lain outlook negatif Moody’s terhadap Danantara, pelemahan rupiah yang telah mencapai lebih dari 7 persen sejak awal tahun, serta sikap wait-and-see investor menjelang pengumuman klasifikasi pasar MSCI pada 18 Juni 2026.
Tekanan terhadap pasar saham domestik juga sejalan dengan pelemahan yang terjadi di bursa saham Amerika Serikat.
Pada perdagangan sebelumnya, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 1,21 persen ke level 50.687,07.
Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,74 persen ke posisi 7.553,68 dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,89 persen menjadi 26.853,98.
BRI Danareksa menilai secara teknikal IHSG masih berpotensi melanjutkan pergerakan konsolidatif dalam jangka pendek.
Area support diperkirakan berada di level 5.850, sedangkan resistance berada di kisaran 6.060.
Menurut riset tersebut, pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen utama dalam beberapa waktu ke depan.
Fokus investor tertuju pada perkembangan stabilitas nilai tukar rupiah, langkah pemerintah dalam meredam tekanan di pasar keuangan, serta hasil evaluasi indeks global yang berpotensi memengaruhi arus modal asing ke Indonesia.
Di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan dua saham pilihan, yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS).
IHSG terus melemah sepanjang tahun 2026, dengan penurunan sekitar 33,97% secara year to date (ytd) atau sejak awal tahun.
Tekanan juga masih terasa dalam jangka pendek, dengan pelemahan sekitar 7,61% dalam sepekan terakhir, 17,78% dalam satu bulan terakhir, dan 25,58% dalam tiga bulan terakhir.
Sentimen negatif juga tercermin dari dominasi saham yang bergerak di zona merah pada hari ini.
Data RTI Business menunjukkan sebanyak 687 saham melemah, hanya 61 saham menguat, dan 59 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp12,38 triliun dengan volume perdagangan 22,24 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1,34 juta kali.
Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.141 triliun.
IHSG dibuka melemah 67,51 poin atau 1,14 persen ke level 5.873 pada perdagangan Kamis pagi.
Mengutip RTI Infokom, IHSG sempat bergerak di rentang 5.919 hingga 5.924 pada awal perdagangan.
Sebanyak 314 saham melemah, 102 saham menguat, dan 217 saham stagnan.
Pelemahan IHSG terjadi di tengah tekanan yang melanda pasar keuangan domestik.
Pada hari yang sama, nilai tukar rupiah juga sempat menembus level psikologis Rp18 ribu per dolar AS.
Dengan koreksi hampir 34 persen sejak awal tahun dan pelemahan lebih dari 7 persen hanya dalam sepekan terakhir, analis memandang tekanan terhadap pasar saham Indonesia masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana sebelumnya memperkirakan fase penurunan IHSG belum selesai, meski peluang penguatan jangka pendek masih terbuka.
Kesimpulan, IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Investor perlu waspada dan memantau sentimen utama yang mempengaruhi pasar saham domestik.











