Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 23 Mei 2026 | Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan peningkatan kasus hantavirus di atas sebuah kapal pesiar, dengan jumlah kasus yang dilaporkan meningkat menjadi 12 dan tiga kematian yang dilaporkan. Belanda telah mengonfirmasi satu kasus tambahan yang melibatkan seorang awak kapal yang turun di Tenerife, Spanyol, kemudian dipulangkan ke Belanda, dan sejak saat itu telah menjalani isolasi.
WHO terus mendesak negara-negara yang terdampak untuk memantau seluruh penumpang dan awak kapal dengan cermat selama sisa periode karantina. Lebih dari 600 kontak terus dipantau di 30 negara, dan sejumlah kecil kontak berisiko tinggi masih dalam proses pelacakan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap penyebaran hantavirus. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan serta menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya. Pelaksana tugas (Pt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni menjelaskan bahwa hantavirus memiliki keterkaitan erat dengan hewan pengerat seperti tikus dan celurut.
Risiko penularan lebih tinggi pada individu yang sering beraktivitas di area yang berpotensi terdapat tikus. Kelompok yang perlu waspada antara lain petugas kebersihan, petani, pekerja kontruksi, pengendali hama, pekerja selokan, hingga petugas laboratorium.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan (Sumsel) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit virus hanta. Warga diimbau untuk menjaga ketat kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja guna menghindari penularan dari hewan reservoir tersebut.
Sebagai bentuk antisipasi agar kasus tetap nihil, Dinkes Sumsel mengingatkan warga agar tidak asal menyapu jika menemukan jejak kotoran tikus atau celurut di dalam rumah. Metode pembersihan yang keliru justru berpotensi memicu penularan virus melalui udara.
Virus hanta ditularkan dari reservoir alami seperti tikus melalui cairan tubuh mulai dari urin, feses, hingga saliva. Di tingkat global, virus ini tengah menjadi sorotan setelah adanya laporan kluster kasus di kapal pesiar MV Hondius.
Virus hanta dapat menyebabkan dua manifestasi klinis, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), di mana ia menyerang sistem pernapasan dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, batuk, dan sesak napas dengan tingkat kematian (Case Fatality Rate/CFR) mencapai 60%. Lalu, Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) menyerang organ ginjal dengan gejala demam, nyeri badan, lemas, hingga fase ikterik atau tubuh menguning.
Tipe HFRS ini memiliki masa inkubasi 1-2 minggu dengan tingkat kematian 5-15%. Oleh karena itu, langkah antisipasi harus diperketat sejak dini untuk mencegah penularan virus hanta.
Kesimpulan, penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit virus hanta, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi. Dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya, dan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku, kita dapat mencegah penularan virus hanta dan menjaga kesehatan masyarakat.











