Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 19 Juni 2026 | Acara UFC Freedom 250 yang digelar di Gedung Putih, Washington D.C., beberapa waktu lalu, telah menarik perhatian masyarakat luas. Acara ini bukan hanya menampilkan pertarungan seru di dalam oktagon, tetapi juga menyebabkan kontroversi terkait penyelenggaraannya di lokasi yang dianggap sakral oleh banyak orang.
Menurut laporan, acara ini dihadiri oleh sekitar 7 juta penonton di Amerika Serikat yang menyaksikan siaran langsung melalui Paramount+. Pertarungan ini sendiri menampilkan tujuh pertandingan, dengan pertarungan utama antara Justin Gaethje dan Ilia Topuria yang berakhir dengan kemenangan Gaethje.
Namun, di balik kesuksesan acara ini, terdapat kritik yang cukup keras dari berbagai pihak. Hunter Biden, putra Presiden Joe Biden, mengungkapkan kekecewaannya atas penyelenggaraan acara ini di Gedung Putih, dengan alasan bahwa lokasi tersebut harus dianggap sakral dan tidak semestinya digunakan untuk kegiatan semacam ini.
Biden juga menyatakan bahwa acara ini lebih tentang pameran kekuasaan dan bukannya perayaan demokrasi. Ia menegaskan bahwa Gedung Putih bukanlah milik presiden, melainkan milik rakyat Amerika.
Di sisi lain, terdapat laporan tentang rencana serangan yang gagal terhadap acara ini. Beberapa orang ditangkap karena diduga berencana melakukan serangan dengan menggunakan drone yang dilengkapi bahan peledak.
Selain itu, terdapat pula kontroversi terkait penggunaan dana untuk proyek renovasi Gedung Putih. Dilaporkan bahwa dana sebesar $350 juta yang seharusnya digunakan untuk keamanan, dialihkan untuk membiayai proyek ini.
Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa acara UFC Freedom 250 di Gedung Putih telah menimbulkan berbagai reaksi, mulai dari kekaguman akan pertarungan seru hingga kekecewaan atas penyelenggaraannya di lokasi yang dianggap sakral. Pertanyaan tentang penggunaan dana dan keamanan juga masih menggantung dan menunggu jawaban yang jelas.











