Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 09 Juli 2026 | Pertandingan antara Jepang dan Brasil di Piala Dunia 2026 menjadi momentum yang pas untuk membaca jejak panjang sepak bola Jepang. Jepang kalah 1-2 setelah sempat unggul lebih dulu lewat Kaishu Sano, lalu dibalas Casemiro sebelum Gabriel Martinelli menutup laga pada masa injury time.
Melawan Brasil, tim lima kali juara dunia, negara yang nyaris identik dengan mitologi sepak bola, jelas bukan urusan enteng. Kekalahan itu memang pahit, tetapi justru menunjukkan seberapa jauh Jepang telah bergerak: dari tim yang dulu hanya bermimpi tampil di Piala Dunia menjadi tim yang bisa membuat Brasil bekerja sangat keras sampai menit terakhir.
Jepang pertama kali tampil di putaran final Piala Dunia pada 1998 di Prancis, setelah akhirnya lolos lewat playoff melawan Iran. Debut itu datang setelah trauma besar yang dikenal sebagai Agony of Doha pada 1993, ketika Jepang hanya butuh sedikit lagi untuk lolos ke Piala Dunia 1994, tetapi kebobolan gol penyeimbang Irak dan tersingkir secara menyakitkan.
Doha menjadi luka kolektif, tetapi juga titik balik: kekalahan itu memaksa Jepang berhenti memandang sepak bola sebagai harapan romantik semata, lalu mulai menatanya sebagai proyek nasional yang serius. Di sinilah Captain Tsubasa menjadi menarik, bukan hanya sebagai nostalgia pop, tetapi sebagai mesin pembentuk imajinasi.
Manga dan anime itu memberi anak-anak Jepang sebuah bahasa baru tentang sepak bola: lapangan sebagai ruang mimpi, nomor punggung sebagai identitas, latihan sebagai kehormatan, dan tim nasional sebagai horizon yang masuk akal untuk dikejar. Menggunakan perspektif cultural studies, komik semacam itu bukan hiburan netral. Ia adalah teks budaya yang memproduksi hasrat, membentuk cita-cita, dan menanamkan gambaran tentang tubuh ideal: tubuh yang disiplin, tahan banting, dan terus bergerak mengejar bola.
Meminjam Foucault, pengaruh Captain Tsubasa bisa dibaca sebagai bagian dari diskursus: cara masyarakat berbicara tentang mimpi, latihan, kompetisi, dan kebangsaan sampai semuanya terasa wajar dan alamiah. Anak-anak yang membaca Tsubasa tidak sedang diperintah masuk akademi sepak bola, tetapi mereka dibiasakan membayangkan diri sebagai subjek yang layak bercita-cita menuju tim nasional.
Dari sana, budaya populer bertemu institusi: sekolah sepak bola, liga usia muda, J.League, hingga federasi yang menyusun visi jangka panjang. Komik, dalam pengertian ini, bekerja seperti propaganda halus yang membuat sebuah proyek nasional terasa menyenangkan untuk diikuti.
Ada sentuhan kriminologis yang tak kalah menarik. Energi anak muda, di manapun, cenderung hadir dalam pola yang mirip: keinginan untuk berkompetisi, mendapat pengakuan, menguji batas, dan sesekali menyalurkan agresi. Dalam teori kontrol sosial Hirschi, olahraga seperti sepak bola adalah salah satu “kegiatan konvensional” yang mengikat anak muda pada dunia sah: mereka punya latihan, jadwal, pelatih, dan tim yang harus dipertanggungjawabkan.
Semakin kuat ikatan itu, semakin kecil peluang energi kompetitif mereka bocor ke bentuk-bentuk deviasi. Dari sudut ini, proyek sepak bola Jepang bukan cuma soal mencetak gol, tetapi juga soal kontrol sosial dan manajemen risiko perilaku menyimpang. Karena itu pula, istilah samurai mentality terasa punya tempat.
Ia bukan sekadar tempelan eksotis dari luar, tetapi ringkasan dari sejumlah nilai yang terus diputar dalam kultur sepak bola Jepang: disiplin, ketekunan, kesediaan menahan frustrasi, dan keberanian bertahan sampai peluit akhir. Julukan Samurai Blue sendiri menautkan tim nasional dengan simbolisme historis. Nippon.com bahkan mencatat pemakaian warna biru indigo kachi-iro yang diasosiasikan dengan kemenangan dalam tradisi samurai.
Sebagai kesimpulan, pertandingan Jepang vs Brasil di Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa Jepang telah bergerak jauh dalam sepak bola. Dari trauma Doha hingga debut di Piala Dunia, Jepang telah menunjukkan kemampuan dan dedikasi dalam mengembangkan sepak bola sebagai proyek nasional. Captain Tsubasa menjadi simbol dari imajinasi dan hasrat anak-anak Jepang untuk menjadi bagian dari tim nasional, dan budaya populer telah memainkan peran penting dalam membentuk identitas sepak bola Jepang.











