Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 02 Agustus 2026 | Kontroversi terbaru di dunia sepak bola internasional kembali memunculkan pertanyaan tentang kepemimpinan FIFA di bawah Gianni Infantino. Rencana untuk menjual saham Piala Dunia kepada investor swasta, yang diumumkan beberapa waktu lalu, telah mendapat kecaman luas dari berbagai kalangan, termasuk konfederasi sepak bola di Asia, Eropa, dan Amerika Utara.
AFC (Asian Football Confederation), UEFA (Union of European Football Associations), dan CONCACAF (Confederation of North, Central America and Caribbean Association Football) secara terbuka menolak rencana tersebut, dengan alasan bahwa rencana ini tidak transparan dan dapat merusak integritas Piala Dunia. Mereka juga menekankan bahwa keputusan seperti ini harus dibuat dengan konsultasi yang lebih luas dan transparan.
Infantino, yang telah memimpin FIFA sejak 2016, telah menghadapi tekanan besar untuk mundur dari posisinya. Ia dikritik karena gaya kepemimpinannya yang dianggap otoriter dan kurang transparan. Rencana penjualan saham Piala Dunia dianggap sebagai puncak dari serangkaian keputusan yang kontroversial selama masa jabatannya.
Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, bahkan telah meminta Infantino untuk mengundurkan diri, menyebut rencana penjualan saham Piala Dunia sebagai “saran yang tidak terpikirkan”. Burnham menegaskan bahwa kepemimpinan Infantino telah gagal memenuhi harapan dan bahwa sudah waktunya bagi FIFA untuk memiliki pemimpin yang lebih transparan dan akuntabel.
Dalam menghadapi tekanan yang meningkat, Infantino akhirnya mengumumkan bahwa rencana penjualan saham Piala Dunia telah dibatalkan. Namun, keputusan ini mungkin tidak cukup untuk meredakan ketegangan yang telah terjadi. Banyak yang masih mempertanyakan kemampuan Infantino untuk memimpin FIFA dan memajukan sepak bola dunia dengan cara yang adil dan transparan.
Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa kepemimpinan FIFA memerlukan reformasi yang signifikan untuk memulihkan kepercayaan dari komunitas sepak bola internasional. Transparansi, akuntabilitas, dan keterlibatan yang lebih luas dari semua stakeholder sepak bola diperlukan untuk memastikan bahwa Piala Dunia dan sepak bola secara keseluruhan dapat terus berkembang dengan sehat dan adil.











