Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 30 Juli 2026 | Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris telah memicu kontroversi yang luas. Setelah Argentina memenangkan pertandingan dengan skor 2-1, para pemain tim nasional Argentina membentangkan spanduk yang bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” atau “Kepulauan Falkland adalah milik Argentina”. Tindakan ini telah memicu reaksi keras dari Inggris dan memicu penyelidikan dari FIFA.
FIFA telah mengonfirmasi bahwa Komite Disiplin sedang meninjau laporan pertandingan serta seluruh fakta yang berkaitan dengan insiden tersebut. Badan sepak bola dunia tersebut menilai apakah tindakan tersebut melanggar regulasi kompetisi, terutama mengenai penggunaan pertandingan resmi sebagai sarana menyampaikan pesan politik, agama, atau pribadi.
Para pemain Argentina, termasuk Enzo Fernandez dan Alexis Mac Allister, juga telah meningkatkan pengamanan pribadi mereka setelah menerima reaksi negatif dari sebagian suporter Inggris. Mereka telah menyewa tim keamanan untuk menjaga rumah dan keluarga mereka sebagai antisipasi terhadap ancaman yang mungkin timbul.
Sementara itu, Lionel Messi telah menunjukkan sisi lain dari dirinya dengan menyapa bek Timnas Cape Verde, Steven Moreira, dalam bahasa Inggris sebelum pertandingan. Hal ini telah memicu kejutan dan pujian dari banyak pihak, karena Messi dikenal tidak terlalu fasih berbahasa Inggris.
Kontroversi ini telah memicu perdebatan yang luas tentang batasan antara olahraga dan politik. Meskipun FIFA telah menegaskan bahwa penyelidikan ini tidak bertujuan menentukan status kedaulatan Kepulauan Malvinas atau Falkland, tetapi hanya menilai kepatuhan terhadap peraturan kompetisi, tetapi insiden ini telah memicu diskusi yang lebih luas tentang hubungan antara olahraga dan politik.
Dalam kesimpulan, pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris telah memicu kontroversi yang luas dan memicu penyelidikan dari FIFA. Insiden ini telah memicu diskusi yang lebih luas tentang batasan antara olahraga dan politik, serta tentang kepatuhan terhadap peraturan kompetisi.











