Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 28 April 2026 | Denver Nuggets kembali menjadi sorotan tajam setelah kegagalan mereka dalam putaran pertama playoff 2026 melawan Minnesota Timberwolves. Meskipun tiga kali MVP, Nikola Jokic tampil jauh di bawah ekspektasi, menurunkan persentase tembakan, terlibat ejeksi, dan dikenai denda $50.000 setelah konfrontasi dengan Jaden McDaniels pada Game 4.
Statistik Jokic sebelum seri menunjukkan performa luar biasa: rata‑rata 52,5% dari lapangan, 38,8% dari tiga poin, dan 56,5% dari dua poin. Namun, dalam empat pertandingan melawan Timberwolves, angka tersebut merosot tajam menjadi 39,1% secara keseluruhan, 18,5% dari tiga poin, serta 48,3% dari dua poin. Penurunan drastis ini menempatkan Nuggets dalam posisi 1‑5 pada enam pertandingan di mana Jokic menembak di bawah 40%.
Penurunan performa tidak hanya terlihat pada tembakan. Jokic mencatat rata‑rata assist menurun menjadi 5,2 per pertandingan, jauh di bawah rata‑rata playoff sebelumnya yang mencapai 10 assist pada seri melawan Oklahoma City Thunder pada 2025. Kekurangan dukungan dari rekan setim, terutama Jamal Murray (37,1% tembakan keseluruhan, 26,5% dari tiga poin) dan Christian Braun yang gagal mencetak 16 dari 27 tembakan, memperparah situasi.
Selain statistik, aspek mental juga menjadi sorotan. Analis ESPN seperti Tim McMahon dan Tim Bontemps menyebut aksi Jokic pada akhir Game 4 sebagai “memalukan”. Setelah menit terakhir berakhir, Jokic menghampiri Jaden McDaniels yang berhasil mencetak layup, memicu perkelahian yang berujung pada ejeksi kedua pemain. NBA kemudian menjatuhkan denda $50.000 kepada Jokic dan $35.000 kepada Julius Randle, pemain Timberwolves yang terlibat.
Perbandingan dengan Giannis Antetokounmpo juga muncul dalam perbincangan. Sementara Giannis tetap konsisten dengan persentase tembakan di atas 55% dan menguasai perbatasan pertahanan, Jokic tampak kehilangan ritme, terutama dalam duel melawan Rudy Gobert yang menahan Jokic pada 33% tembakan, jauh di bawah rata‑rata karirnya melawan Gobert (51%).
Berikut rangkuman statistik utama seri ini:
| Statistik | Sebelum Seri | Selama Seri |
|---|---|---|
| Persentase Field Goal | 52,5% | 39,1% |
| Persentase 3‑Point | 38,8% | 18,5% |
| Assists per Game | 10,0 | 5,2 |
| Rebound per Game | 11,3 | 9,4 |
Reaksi publik di media sosial pun beragam. Sebagian memuji keberanian Jokic melawan lawan, namun mayoritas menilai tindakan tersebut melanggar “aturan tak tertulis” dalam NBA, yaitu menghormati lawan saat skor sudah tak dapat diubah. Kritik tajam juga datang dari pelatih Nuggets, David Adelman, yang dianggap tidak memberikan cukup ruang bagi Jokic untuk memanfaatkan keunggulan postur dan vision-nya.
Meski demikian, beberapa pengamat tetap memberi ruang bagi pemulihan. Mereka menekankan bahwa Jokic adalah pemain serba bisa yang dapat mengubah alur pertandingan dengan satu aksi. Jika Nuggets dapat menyesuaikan strategi, memperbaiki spacing, dan mendapatkan kontribusi tembakan dari pemain pendukung, Jokic masih memiliki peluang untuk bangkit kembali di seri berikutnya.
Kesimpulannya, seri ini menandai salah satu fase paling mengecewakan dalam karier playoff Jokic. Penurunan tembakan, kurangnya dukungan tim, serta ejeksi yang menambah beban mental menjadi faktor utama. Jika Nuggets ingin melanjutkan kampanye mereka, perubahan taktik dan pemulihan mental Jokic menjadi kunci utama.











