Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 29 April 2026 | Paris Saint-Germain (PSG) kini menjadi ajang uji bagi Lucas Chevalier, penjaga gawang berusia 24 tahun yang pernah menonjol di Lille OSC. Sejak kepindahannya ke ibu kota, Chevalier tak mampu mempertahankan posisi utama di bawah arahan Luis Enrique. Ia tersingkir sebagai pilihan kedua di belakang Matvey Safonov, yang kini mendominasi lini pertahanan klub. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depannya di timnas Prancis, terutama menjelang Piala Dunia 2026.
Sejak debut internasional pada 16 November 2025, Chevalier telah menjadi bagian dari skuad tiga kiper Didier Deschamps bersama Mike Maignan (penjaga gawang utama) dan Brice Samba (penjaga gawang nomor dua). Namun, kurangnya menit bermain di level klub memperlemah posisinya. Pada bulan Maret, selama jeda internasional, Chevalier tidak tampil dalam pertandingan resmi maupun latihan intensif, menimbulkan keraguan di antara staf pelatih tentang kebugaran dan kesiapan mentalnya.
Situasi semakin rumit dengan rumor kembalinya Hugo Lloris ke timnas. Lloris, yang pensiun dari urusan internasional pada 2023 setelah Piala Dunia Qatar, kini beraksi sebagai penjaga gawang utama Los Angeles FC di MLS. Meskipun usianya 39 tahun, performa Lloris masih terjaga, tercatat delapan clean sheet dalam sembilan pertandingan terakhir. Beberapa pengamat menyebut bahwa Deschamps mungkin mempertimbangkan Lloris sebagai opsi ketiga, mengingat pengalaman internasionalnya yang tak tertandingi.
Jika Lloris dipanggil kembali, posisi Chevalier sebagai kiper nomor tiga akan terancam. Hal ini telah diungkapkan dalam diskusi di RMC, dimana jurnalis Arthur Perrot menyatakan bahwa kehadiran Lloris “bisa menjadi dramtatis” bagi Chevalier. Sementara itu, dalam lingkungan tim PSG, manajemen telah menginvestasikan sekitar 40 juta euro untuk mengamankan jasa Chevalier pada musim panas 2025, namun tidak ada indikasi bahwa ia akan mendapatkan peluang bermain lebih banyak.
Selain persaingan internal, performa Chevalier di klub juga menjadi sorotan. Sejak Januari, ia tak lagi muncul di lapangan, menjadi saksi bisu kemenangan PSG atas Angers (3-0) dari bangku cadangan. Pelatih Luis Enrique tampaknya lebih mempercayakan Safonov, meski pertandingan-pertandingan krusial tetap dimenangkan tanpa kontribusi Chevalier.
Di sisi lain, staf timnas menilai sikap profesional Chevalier selama pertemuan di Raymond Kopa. Meskipun tidak mendapatkan menit bermain, ia menunjukkan etos kerja tinggi, termasuk melakukan sesi yoga yang dipublikasikan secara informal. Penilaian positif ini dapat menjadi nilai tambah pada keputusan Deschamps, yang dijadwalkan mengumumkan daftar final pada 14 Mei 2026.
Namun, faktor-faktor lain juga menjadi bahan pertimbangan. Beberapa kiper muda seperti Robin Risser (RC Lens), Alphonse Areola (West Ham United) dan Jean Butez (Côme 1907) menunjukkan performa yang stabil di kompetisi masing-masing. Jika Deschamps memutuskan untuk memperluas pilihan, Chevalier harus bersaing tidak hanya melawan senior seperti Lloris, tetapi juga generasi baru yang tengah naik daun.
Secara keseluruhan, nasib Lucas Chevalier di Piala Dunia 2026 masih sangat tidak pasti. Kurangnya waktu bermain di PSG, persaingan ketat di antara kiper senior, serta potensi kembalinya Lloris menjadi tiga faktor utama yang memengaruhi peluangnya. Keputusan Deschamps pada pertengahan Mei akan menjadi penentu akhir apakah Chevalier akan menapaki panggung dunia atau harus menanti kesempatan berikutnya.
Jika Chevalier berhasil masuk dalam skuad final, ia harus siap menghadapi tantangan mental dan fisik yang berat. Namun, bila tidak terpilih, masa depan kariernya di level tertinggi masih terbuka, mengingat usia muda dan pengalaman internasional yang telah ia kumpulkan. Apa yang terjadi selanjutnya akan menjadi sorotan utama bagi para penggemar sepak bola Prancis dan dunia.











