Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 21 April 2026 | Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali menegaskan kebijakan penetapan harga tiket Piala Dunia 2026 setelah mendapat sorotan tajam dari penggemar dan media internasional. Dalam serangkaian pernyataan yang disampaikan pada Forum Ekonomi Semafor World Economy 2026 Annual Convening di Washington, DC, serta pada World Sports Summit di Dubai, Infantino menekankan bahwa harga tiket yang dianggap “selangit” oleh sebagian kalangan merupakan konsekuensi logis dari struktur keuangan FIFA serta permintaan global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Infantino menjelaskan bahwa FIFA beroperasi sebagai organisasi nirlaba, dimana seluruh pendapatan dari turnamen empat tahunan tersebut diinvestasikan kembali ke dalam pengembangan sepak bola di semua tingkatan, mulai dari akademi pemuda hingga infrastruktur stadion di negara berkembang. Ia menambahkan bahwa tanpa sumber pendapatan utama ini, program bantuan teknis, pelatihan pelatih, dan proyek pembangunan lapangan di Afrika, Asia, dan Amerika Latin tidak dapat berlanjut.
Faktor lain yang menjustifikasi harga tinggi adalah ekspansi format turnamen menjadi 48 tim, yang menambah jumlah pertandingan menjadi 104 perhelatan. Lebih banyak pertandingan berarti biaya operasional, logistik, keamanan, serta penyediaan layanan bagi penonton yang jauh lebih besar. Selain itu, tiga negara tuan rumah – Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada – menuntut standar stadium kelas dunia, yang menambah beban biaya konstruksi dan renovasi.
Untuk merespons kritik publik, FIFA memperkenalkan kategori tiket khusus yang lebih terjangkau, meskipun jumlahnya terbatas. Tiket “Fan Zone” dan “Community Pass” ditujukan bagi pendukung dengan daya beli lebih rendah, namun ketersediaannya sangat kompetitif dan biasanya terjual habis dalam hitungan menit setelah penjualan dibuka.
- Harga tiket standar untuk pertandingan grup berkisar US$ 250–$350.
- Tiket semifinal naik menjadi US$ 600–$800.
- Tiket final mencapai US$ 1.200 atau lebih, tergantung lokasi tempat duduk.
Reaksi penggemar di media sosial menampilkan beragam pandangan, mulai dari kecaman bahwa FIFA “menjual mimpi” hingga dukungan bahwa pendanaan yang kuat diperlukan untuk mengangkat standar kompetisi. Beberapa komentar menyoroti bahwa harga tinggi dapat mengurangi keberagaman penonton, terutama dari negara‑negara dengan ekonomi lebih lemah.
Di sisi lain, konteks politik global turut memperkeruh perdebatan. Pada masa yang sama, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menerima FIFA Peace Prize dari Infantino, menimbulkan spekulasi mengenai hubungan antara kebijakan imigrasi ketat Amerika dan akses penonton internasional ke stadion. Sementara itu, krisis sepak bola Italia yang sedang berlangsung, dengan kegagalan tim nasional untuk lolos ke Piala Dunia dan penurunan performa klub‑klub di kompetisi Eropa, menambah sorotan pada kebijakan FIFA yang dianggap menguntungkan negara tuan rumah sekaligus menekan negara‑negara lain.
Infantino menutup dengan menegaskan bahwa “tanpa dukungan finansial yang kuat dari penjualan tiket, FIFA tidak akan mampu melanjutkan misi globalnya untuk memajukan sepak bola di seluruh dunia.” Ia menambahkan bahwa penetapan harga merupakan hasil analisis pasar yang mendalam, dan bahwa organisasi terus mencari cara untuk meningkatkan inklusivitas tanpa mengorbankan keberlanjutan finansial.
Secara keseluruhan, perdebatan seputar harga tiket Piala Dunia 2026 mencerminkan ketegangan antara kebutuhan komersial FIFA dan harapan publik akan akses yang lebih luas. Bagaimana FIFA menyeimbangkan kedua kepentingan ini akan menjadi indikator penting bagi masa depan kompetisi sepak bola internasional.











