Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 12 Juli 2026 | Banyak calon pembeli kendaraan listrik masih dihantui kekhawatiran soal umur baterai. Tak sedikit yang menganggap komponen paling mahal di kendaraan listrik itu akan cepat mengalami penurunan performa dan membutuhkan biaya penggantian yang sangat besar. Namun, temuan terbaru justru mematahkan anggapan tersebut.
Sebuah studi menunjukkan bahwa baterai mobil listrik modern memiliki daya tahan yang jauh lebih lama dari perkiraan industri sebelumnya. Sejumlah kendaraan bahkan masih mampu mempertahankan sebagian besar jarak tempuhnya meski telah digunakan hingga ratusan ribu mil.
Salah satu contoh adalah Richard Symons, seorang dealer mobil listrik bekas asal Inggris. Tesla Model 3 miliknya yang telah berusia lima tahun sudah menempuh perjalanan sejauh 397.000 kilometer. Meski demikian, mobil tersebut masih sanggup digunakan untuk perjalanan jarak jauh dengan baik.
Perusahaan analitik baterai Recurrent memperkirakan bahwa rata-rata mobil listrik masih mampu mempertahankan hingga 95 persen jarak tempuh awalnya setelah lima tahun pemakaian. Peningkatan ini didukung oleh perkembangan teknologi kimia baterai, sistem manajemen suhu yang lebih baik, serta perangkat lunak pengelola baterai yang semakin canggih untuk menjaga kesehatan sel dalam jangka panjang.
Data Recurrent juga menunjukkan bahwa sekitar satu dari 12 mobil listrik produksi 2011 hingga 2016 memerlukan penggantian baterai. Sebaliknya, pada kendaraan yang diproduksi mulai 2022, angkanya turun drastis menjadi hanya sekitar 0,3 persen.
Di Indonesia, beberapa pabrikan mobil listrik telah memasuki pasar, seperti BAIC dengan model T1. BAIC T1 menawarkan proporsi bodi yang kompak namun tetap gagah khas crossover, dengan dimensi panjang 4.337 mm, lebar 1.860 mm, tinggi 1.572 mm, serta jarak sumbu roda sepanjang 2.770 mm.
Keandalan melintasi berbagai kontur jalanan Indonesia ditunjang oleh jarak terendah ke tanah setinggi 181 mm. Urusan performa dan efisiensi juga menjadi jualan utama. BAIC T1 diklaim sanggup menempuh jarak hingga 425 kilometer dalam satu kali pengisian daya penuh berdasarkan siklus pengujian CLTC.
Guna memangkas waktu tunggu pengisian daya, sistem baterai mobil ini telah mengadopsi teknologi pengisian daya cepat yang mampu menyuplai daya dari 30% hingga 80% hanya dalam kurun waktu 25 menit.
Bagi pengemudi ride-hailing, kendaraan bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga merupakan sumber penghasilan. Setiap biaya yang dapat ditekan akan berdampak langsung pada pendapatan yang dibawa pulang. Karena itu, skema tukar baterai yang fleksibel dari VinFast Evo dipercaya dapat menarik perhatian para pengemudi yang menghabiskan waktu berjam-jam di jalan setiap harinya.
VinFast Evo dipasarkan dengan harga Rp18.980.000 dengan berlangganan baterai atau Rp26.260.000 termasuk dua baterai. Konsumen juga dapat memilih untuk menyewa dua baterai dengan biaya hanya Rp84.000 per baterai setiap bulan atau membeli e-motorcycle beserta baterainya, sesuai dengan kebutuhan.
Biaya tukar baterai juga sangat terjangkau, yakni hanya Rp6.000 per baterai untuk setiap kali penukaran. Melalui kemitraan strategis dengan V-GREEN sebagai pengembang infrastruktur pengisian daya global, VinFast terus memperluas jaringan stasiun penukaran baterai dan pengisian daya di berbagai wilayah Indonesia.
Kesimpulan, baterai kendaraan listrik lebih awet dari yang diperkirakan sebelumnya. Dengan kemajuan teknologi dan perawatan yang tepat, baterai dapat bertahan lebih lama dan mengurangi biaya penggantian. Hal ini membuat kendaraan listrik menjadi pilihan yang lebih menarik bagi konsumen.











