Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 18 April 2026 | Paramount Pictures bersama Legendary kembali menghidupkan waralaba game legendaris Capcom dengan meluncurkan reboot live‑action Street Fighter yang dijadwalkan tayang di bioskop dunia pada 16 Oktober 2026. Film yang disutradarai oleh Kitao Sakurai ini menampilkan jajaran bintang internasional, termasuk Noah Centineo sebagai Ken Masters, Andrew Koji sebagai Ryu, Jason Momoa yang juga berperan sebagai produser memerankan Blanka, Curtis “50 Cent” Jackson sebagai Balrog, serta bintang WWE Roman Reigns yang mengambil peran antagonis Akuma. Penambahan Cody Rhodes sebagai Guile dan Vidyut Jammwal sebagai Dhalsim menambah kedalaman roster karakter klasik.
Plot utama film berpusat pada perseteruan lama antara Ryu dan Ken yang dipaksa kembali ke arena ketika sosok misterius Chun‑Li (diperankan oleh Callina Liang) mengundang mereka untuk berpartisipasi dalam turnamen World Warrior yang dijanjikan akan mengungkap konspirasi gelap di balik pertarungan. Sinopsis resmi menegaskan bahwa kegagalan para pejuang dalam turnamen tersebut akan berujung pada “GAME OVER” bagi dunia, menambah tekanan dramatis pada aksi‑aksi khas franchise.
Trailer perdana yang diputar pada CinemaCon 2026 langsung memicu perdebatan di kalangan penggemar. Di satu sisi, visual karakter yang setia pada desain klasik—seperti warna kostum, gerakan jurus, dan aura energi—dianggap sebagai penghormatan yang tepat. Di sisi lain, beberapa penggemar menilai casting tertentu sebagai langkah berisiko, terutama pemilihan Momoa sebagai Blanka dan Reigns sebagai Akuma, yang menimbulkan skeptisisme terkait kesesuaian fisik dan karakterisasi.
- Cast utama: Noah Centineo (Ken), Andrew Koji (Ryu), Callina Liang (Chun‑Li), Jason Momoa (Blanka), Curtis “50 Cent” Jackson (Balrog), Roman Reigns (Akuma), Cody Rhodes (Guile), David Dastmalchian (M. Bison), Andrew Schulz (Dan Hibiki), Vidyut Jammwal (Dhalsim).
- Sutradara: Kitao Sakurai, dikenal dengan pendekatan visual yang dinamis.
- Rilis: 16 Oktober 2026, secara simultan di seluruh dunia.
Selain casting, trailer juga menampilkan tiga easter egg yang langsung dikenali oleh pemain game. Pertama, Ken menghancurkan mobil dengan tendangan kuatnya dalam sebuah adegan yang mengacu pada bonus stage ikonik Street Fighter II. Kedua, suara presenter pertandingan yang mengumandangkan “Fight!”, “Perfect!” dan “You Win!” muncul sebagai latar suara, menghidupkan kembali nuansa turnamen arcade era 90‑an. Ketiga, gerakan jurus khas seperti Shoryuken, Spinning Piledriver, dan Hadouken ditampilkan secara detail, bahkan efek energi biru pada Hadouken Ryu tampak persis seperti di layar arcade.
Reaksi fans di media sosial terbagi. Sebagian memuji upaya Paramount yang berani menggabungkan elemen nostalgia dengan produksi kelas dunia, menilai bahwa visual efek dan koreografi pertarungan berhasil menampilkan Hadouken dan Shoryuken secara menakjubkan. Namun, kritikus juga menyoroti risiko adaptasi yang terlalu bergantung pada cameo bintang daripada menekankan kedalaman narasi dan karakter, mengingat kegagalan adaptasi sebelumnya seperti film Street Fighter 1994 yang berujung pada status kultus, serta Street Fighter: The Legend of Chun‑Li 2009 yang hampir tidak mendapat sorotan.
Penggemar juga menantikan bagaimana film ini akan menyeimbangkan aksi fisik dengan latar cerita konspirasi yang disebutkan dalam sinopsis. Konsep turnamen yang menjadi kedok bagi plot misteri menimbulkan harapan bahwa film tidak hanya akan menjadi rangkaian pertarungan visual, melainkan juga menawarkan alur yang mengikat penonton pada konflik internal Ryu dan Ken serta dinamika hubungan mereka dengan Chun‑Li.
Secara keseluruhan, Street Fighter 2026 tampak sebagai proyek ambisius yang mencoba menebus kesalahan adaptasi masa lalu dengan menyatukan elemen gameplay yang ikonik, casting bintang besar, dan produksi visual tingkat tinggi. Jika film dapat menyeimbangkan semua komponen tersebut, kemungkinan besar ia akan menjadi titik balik penting bagi franchise game‑to‑film, sekaligus memberikan pengalaman sinematik yang memuaskan bagi generasi baru pemain dan penggemar lama.
Kesimpulannya, film ini menjanjikan pertarungan epik, visual yang memukau, serta potensi cerita yang lebih dalam daripada sekadar meniru game. Namun, keberhasilannya akan sangat ditentukan pada kemampuan sutradara dan penulis skenario mengintegrasikan elemen nostalgia dengan narasi yang kuat, serta respons penonton yang terus memantau setiap detail, termasuk casting dan easter egg yang menjadi bahan perbincangan hangat di komunitas.











