Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 28 Juni 2026 | Pasar saham Indonesia mengalami tekanan cukup besar sepanjang pekan terakhir Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hingga 4,55% dan turun ke level 5.896,13, sekaligus meninggalkan level psikologis 6.000. Tekanan tersebut dipicu oleh pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan dan energi.
Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat melemah 7,42%, sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terkoreksi hingga 24,55%. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga ikut mengalami tekanan. Di saat yang sama, investor asing mencatat aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp3,43 triliun sepanjang pekan.
Nilai tersebut melonjak signifikan dibandingkan pekan sebelumnya yang sebesar Rp904,07 miliar. Gelombang aksi jual itu turut memangkas kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar 4,51%, dari Rp10.788 triliun menjadi Rp10.302 triliun.
Di sisi lain, penyedia indeks global MSCI mengakui langkah reformasi transparansi pasar modal Indonesia yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Reformasi tersebut tetap akan dipantau hingga November 2026.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 18,6% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp23,3 triliun pada Januari sampai dengan Mei 2026. Berdasarkan laporan keuangan bank only per 31 Mei 2026, Bank Mandiri membukukan penyaluran kredit sebesar Rp1.580 triliun atau meningkat 20,6% YoY.
Sementara itu, total aset perseroan naik 20% YoY menjadi Rp2.306 triliun. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan pertumbuhan tersebut merupakan hasil dari strategi bisnis yang dijalankan secara konsisten dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Kinerja ini merupakan hasil dari eksekusi strategi yang terukur dan konsisten di seluruh lini bisnis, dengan pengelolaan risiko yang disiplin dan penuh kehati-hatian untuk menjaga pertumbuhan tetap sehat dalam jangka panjang.
Ekspansi kredit Bank Mandiri difokuskan pada sektor-sektor produktif, mulai dari hilirisasi industri hingga pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Adapun penyaluran pembiayaan tersebut diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja.
Di sisi pendanaan, Bank Mandiri menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.716 triliun hingga akhir Mei 2026 atau tumbuh 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh dana murah (CASA), dengan saldo giro mencapai Rp664 triliun dan tabungan Rp559 triliun.
Dengan demikian, Bank Mandiri kian mempertegas posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam menggulirkan program akselerasi ekonomi kerakyatan yang inklusif serta berdaya saing tinggi.
Kesimpulan dari kondisi pasar saham dan kinerja Bank Mandiri adalah bahwa IHSG masih mengalami tekanan, namun Bank Mandiri tetap menunjukkan kinerja yang baik dengan pertumbuhan laba bersih yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa Bank Mandiri masih memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang di masa depan.









