Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 11 Mei 2026 | Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, menegaskan bahwa kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih terkendali. Hal ini disampaikan sebagai respons atas berbagai isu yang beredar tentang kemungkinan APBN 2026 mengalami defisit yang lebih besar dari perkiraan. Said Abdullah menekankan bahwa perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik di tengah tekanan global.
Menurut Said Abdullah, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,6 persen, didorong oleh faktor musiman Ramadan dan Lebaran yang meningkatkan konsumsi rumah tangga dan menggerakkan sektor industri, perdagangan, transportasi, hotel, serta restoran. Realisasi belanja pemerintah yang lebih cepat dari biasanya juga ikut menopang pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG, yang dinilai membebani devisa negara dan anggaran subsidi energi. Bahlil menyebutkan bahwa devisa yang dikeluarkan Indonesia untuk impor LPG setiap tahun mencapai Rp120 triliun hingga Rp150 triliun. Ini menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap kondisi fiskal negara.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa rasio utang Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan banyak negara lainnya, termasuk di kawasan ASEAN. Purbaya menegaskan bahwa utang produktif dan terukur diperlukan untuk ekspansi, layaknya perusahaan.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan pendapatan negara dan mengoptimalkan belanja pemerintah. Said Abdullah menyoroti bahwa pendapatan negara pada kuartal I 2026 mencapai Rp 574,9 triliun, dengan penerimaan pajak tercatat sebesar Rp 394,8 triliun, tumbuh 20,7 persen secara tahunan.
Untuk mengatasi ketergantungan pada impor LPG, pemerintah mendorong pengembangan DME berbasis batu bara kalori rendah. Proyek ini diharapkan dapat mengurangi impor LPG dan meningkatkan penggunaan sumber daya dalam negeri.
Kesimpulan dari berbagai pernyataan tersebut adalah bahwa kondisi APBN 2026 masih terkendali, meskipun terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi. Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan pendapatan negara, mengoptimalkan belanja pemerintah, dan mengurangi ketergantungan pada impor. Dengan demikian, diharapkan kondisi fiskal negara dapat tetap stabil dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.











