Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 11 Juni 2026 | Indeks FTSE 100, yang merupakan indikator utama pasar saham Inggris, ditutup lebih tinggi pada Rabu, naik 0,21 persen atau 15,02 poin menjadi 7.290,49 poin. Sementara itu, indeks DAX-30 Jerman di Bursa Efek Frankfurt juga ditutup lebih tinggi pada Rabu, naik 62,87 poin atau 0,54 persen menjadi 11.646,17 poin.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin bergerak melemah dipicu oleh kombinasi sentimen dari tingkat domestik maupun global. IHSG dibuka melemah 108,46 poin atau 1,94 persen ke posisi 5.486,31, dan terus melemah hingga 222,29 poin atau 3,99 persen ke posisi 5.371,78 pada pukul 09.15 WIB.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons pengumuman terbaru dari dua penyedia indeks global yaitu MSCI dan FTSE Russell terkait evaluasi mereka terhadap saham-saham Indonesia. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) pasar modal terus mencermati perkembangan pasar serta melakukan koordinasi secara intensif dengan seluruh pemangku kepentingan dan pelaku pasar.
Hasan menilai kebiajakan-kebijakan stabilisasi pasar yang saat ini diterapkan masih relevan dan efektif dalam menjaga stabilitas pasar modal Indonesia. Ke depan, OJK bersama SRO akan terus memantau agenda-agenda yang dilakukan penyedia indeks global sekaligus memastikan reformasi pasar modal yang tengah berjalan dapat diimplementasikan secara konsisten.
Pejabat sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan fundamental pasar modal Indonesia dalam kondisi baik meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat rontok nyaris 5% selama dua hari berturut-turut. Jeffrey mengingatkan investor untuk tetap mengambil keputusan investasi secara rasional dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan dan profil risiko masing-masing di tengah pelemahan IHSG.
Meski demikian, Jeffrey mengatakan kinerja emiten yang tercatat di bursa masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, laba bersih seluruh perusahaan tercatat tumbuh lebih dari 21% dibandingkan tahun sebelumnya. Kalau kita lihat perkembangannya sampai dengan kuartal pertama tahun 2026, dibandingkan dengan kuartal pertama di tahun 2025, khususnya untuk saham-saham dalam kelompok LQ45, terjadi pertumbuhan laba bersih hampir 30%.
Kesimpulan, kinerja pasar modal global dan domestik saat ini masih terpengaruh oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan moneter dan keuangan, serta perkembangan ekonomi global. OJK dan BEI terus memantau dan mengambil langkah-langkah untuk menjaga stabilitas pasar modal Indonesia.











