Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 02 Mei 2026 | Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyoroti kehadiran investor China dalam program MBG, menilai kehadiran tersebut dapat mengancam kelangsungan usaha peternak lokal di beberapa daerah. Pernyataan itu disampaikan dalam rapat komisi terkait agribisnis, menambah kekhawatiran publik tentang dampak investasi asing pada sektor peternakan dalam negeri.
Program MBG (Masyarakat Berbasis Ganda) merupakan inisiatif pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan dengan menggabungkan teknologi modern, pendanaan swasta, dan partisipasi komunitas. Program ini menargetkan peningkatan produksi daging, susu, dan produk ternak lainnya melalui pembangunan kandang modern, fasilitas pengolahan, serta pelatihan bagi peternak. Dalam upaya mempercepat realisasi, pemerintah membuka peluang investasi asing, termasuk dari negara China, yang dikenal aktif dalam sektor agrikultur di Asia Tenggara.
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa investor China telah menyalurkan lebih dari US$300 juta ke proyek MBG selama dua tahun terakhir. Investasi tersebut terfokus pada tiga provinsi utama, seperti yang tercantum dalam tabel di bawah ini:
| Provinsi | Investasi (USD Juta) | Jenis Proyek |
|---|---|---|
| Jawa Timur | 120 | Kandang intensif & pabrik pengolahan |
| Jawa Tengah | 90 | Fasilitas penyimpanan dan distribusi |
| Jawa Barat | 95 | Pelatihan teknologi peternakan |
Meski jumlah investasi tersebut dapat meningkatkan kapasitas produksi, sejumlah peternak tradisional mengungkapkan rasa khawatir mereka. “Jika kandang modern dibangun di wilayah kami, harga pakan dan tanah akan melonjak, sehingga kami yang mengandalkan lahan kecil akan sulit bersaing,” ujar Budi Santoso, peternak sapi perah di Kabupaten Malang. Keluhan serupa juga terdengar dari peternak di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Subang, yang menilai proyek MBG berpotensi menggeser pasar lokal ke pemain besar dengan modal luar negeri.
Menanggapi kekhawatiran itu, Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke kawasan pertanian menegaskan pentingnya dukungan buruh dan petani terhadap program MBG. Prabowo mengatakan, “Program MBG akan memberikan dampak positif hingga ke petani, namun kita harus memastikan bahwa manfaatnya dirasakan secara merata. Oleh karena itu, buruh dan petani harus bersatu mendukung pelaksanaannya.” Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana pemerintah akan menyeimbangkan antara kepentingan investor asing dan keberlangsungan usaha peternak kecil.
Anggota DPR PDIP yang mengkritik investor China menekankan perlunya regulasi yang lebih ketat. Ia mengusulkan agar kementerian terkait menetapkan batas maksimal kepemilikan saham asing pada proyek MBG, serta mewajibkan transfer teknologi dan pelatihan bagi peternak lokal. “Kita tidak menolak investasi, tetapi investasi harus membawa manfaat langsung bagi rakyat, bukan sekadar profit bagi perusahaan luar,” tegasnya.
Dari sisi ekonomi, kehadiran investor China dapat memperkenalkan standar produksi internasional, meningkatkan kualitas daging dan susu Indonesia, serta membuka peluang ekspor. Namun, tanpa mekanisme perlindungan, peternak skala kecil berisiko kehilangan pangsa pasar, yang pada gilirannya dapat memicu penurunan pendapatan rumah tangga di wilayah agraris.
Berbagai pihak kini menunggu langkah konkret dari pemerintah. Kementerian Pertanian dikabarkan sedang menyusun pedoman tata kelola investasi asing dalam program MBG, termasuk ketentuan alokasi lahan, harga pakan, serta program bantuan subsidi bagi peternak yang terdampak. Jika kebijakan tersebut dapat diimplementasikan secara transparan, harapan akan terwujud bahwa investasi asing, termasuk investor China, dapat menjadi katalisator pertumbuhan tanpa mengorbankan kesejahteraan peternak lokal.
Secara keseluruhan, sorotan anggota DPR PDIP mengingatkan pentingnya keseimbangan antara membuka pintu investasi dan melindungi kepentingan domestik. Keberhasilan program MBG akan sangat ditentukan pada kemampuan pemerintah mengatur alur investasi, memastikan transfer teknologi, dan memberikan dukungan yang memadai bagi peternak tradisional.











