Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 18 Mei 2026 | Singapore Airlines dan beberapa maskapai lainnya saat ini menghadapi tantangan besar akibat kerusuhan udara di Asia. Banyak penerbangan yang dibatalkan atau ditunda karena cuaca buruk, kemacetan di bandara, dan dampak dari konflik di Timur Tengah.
Menurut data pelacakan penerbangan, sebanyak 366 penerbangan dibatalkan dan 2.949 lainnya ditunda. Maskapai seperti China Eastern Airlines, IndiGo, AirAsia, dan Etihad Airways adalah beberapa yang terkena dampak. Bandara-bandara besar seperti Tokyo Haneda, Shenzhen Bao’an, Kempegowda International, Singapore Changi, dan Zayed International juga terpengaruh.
Para ahli industri menyatakan bahwa kerusuhan ini disebabkan oleh kombinasi cuaca buruk di Asia, kemacetan di bandara, dan dampak dari pembatasan ruang udara di Timur Tengah. Hal ini memaksa maskapai untuk merutekan kembali penerbangan dan menanggung biaya bahan bakar yang lebih tinggi.
Singapore Airlines, meskipun menghadapi tantangan, telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan kapasitas pada beberapa rute. Langkah ini diambil karena penumpang semakin memilih penerbangan langsung antara Asia dan Eropa yang melewati Timur Tengah.
Di sisi lain, Air India baru-baru ini mengalami kerugian sebesar $2,8 miliar karena pembatasan ruang udara di Pakistan dan konflik di Timur Tengah. Kerugian ini merupakan yang terbesar dalam sejarah maskapai.
Di tengah-tengah kerusuhan ini, sebuah penerbangan yang dioperasikan oleh China Eastern Airlines telah mencatat rekor sebagai penerbangan penumpang terpanjang, dengan durasi hingga 29 jam dan jarak tempuh sekitar 12.427 mil. Penerbangan ini menghubungkan Shanghai dengan Buenos Aires, dengan perhentian di Auckland.
Untuk menghadapi tantangan ini, para maskapai dan otoritas bandara harus bekerja sama untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi dampak kerusuhan udara. Penumpang juga diharapkan untuk memantau status penerbangan mereka sebelum berangkat ke bandara.
Kesimpulan, kerusuhan udara di Asia telah menyebabkan dampak besar pada maskapai dan penumpang. Namun, dengan kerja sama dan upaya untuk meningkatkan efisiensi, diharapkan situasi ini dapat segera membaik.











