Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 16 Juni 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa tekanan militer terhadap Iran menjadi faktor utama yang mendorong tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran. Dalam wawancara dengan The New York Times, Trump menyebut serangan rudal dan pengeboman AS serta blokade laut menjadi alasan Iran akhirnya bersedia mencapai kesepakatan.
Trump menambahkan bahwa pendekatan keras terhadap Iran menjadi pembeda utama dalam tercapainya kesepakatan tersebut. Ia juga menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat kembali melakukan operasi militer di Timur Tengah jika Iran tidak menyetujui kesepakatan nuklir dengan Washington.
Iran, bagaimanapun, membantah klaim Trump bahwa mereka akan menandatangani perjanjian dengan Amerika Serikat pada hari Minggu. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengkritik ‘kegigihan luar biasa’ Trump dalam menandatangani perjanjian tersebut hari ini.
IRGC menggambarkan jadwal penandatanganan tersebut sebagai ‘ujian bagi tim negosiasi Iran’. Mereka menyebut pengumuman Trump tersebut disampaikan ‘meskipun para negosiator Iran secara eksplisit menyatakan bahwa memorandum tersebut belum diselesaikan dan penandatanganan pada hari Minggu pasti tidak akan terjadi’.
Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya mengindikasikan bahwa kesepakatan tersebut tidak akan ditandatangani pada Minggu. Presiden Trump, bagaimanapun, tetap optimis bahwa kesepakatan dapat tercapai dan membuka jalan bagi kembali beroperasinya Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Kesepakatan yang telah lama dinantikan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah ini masih dalam tahap negosiasi. Pembicaraan baru dengan Iran akan berlanjut, termasuk terkait pembatasan pengayaan uranium dan mekanisme pengawasan.
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat berperan sebagai ‘penjaga Timur Tengah’ jika kesepakatan nuklir tidak tercapai. Ia bahkan mengungkap gagasan bahwa Washington bisa mengambil 20 persen pendapatan kawasan tersebut sebagai imbalan atas peran itu.
Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat. Amerika Serikat telah menyerang Iran sejak 28 Februari, yang kemudian memicu perang di kawasan. Pada 8 April, kedua negara sepakat mencapai gencatan senjata meski masih diwarnai aksi saling tembak.
Terbaru, Amerika Serikat menggempur sejumlah sistem pertahanan udara dan radar di sekitar Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap helikopter Apache milik Amerika Serikat.
Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran masih dalam tahap negosiasi. Amerika Serikat tetap optimis bahwa kesepakatan dapat tercapai, namun Iran membantah klaim bahwa mereka akan menandatangani perjanjian pada hari Minggu.











