Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 26 April 2026 | Di sebuah desa terpencil di Pandeglang, Banten, seorang ibu bernama Siti (nama samaran) menempati sebuah rumah gubuk tanpa listrik selama satu dekade. Selama 10 tahun, ia harus mengatur hidupnya secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan dua anaknya, Rani (7) dan Dedi (4). Tanpa akses listrik, setiap kegiatan sehari-hari – dari memasak, mencuci, hingga menyalakan lampu – menjadi tantangan yang menuntut kreativitas dan ketekunan.
Siti memanfaatkan sumber daya alam sekitar. Ia menanam sayuran hijau di pekarangan kecil, memelihara ayam kampung, serta mengelola kolam terpal sederhana untuk budidaya ikan lele. Pendekatan ini selaras dengan praktik ternak rumahan tanpa tenaga berat yang banyak dibahas dalam literatur pertanian modern. Dengan menggunakan sistem bioflok sederhana, kualitas air kolam tetap stabil, sehingga ikan dapat tumbuh dengan baik tanpa memerlukan pompa listrik besar.
Berikut beberapa strategi yang diterapkan Siti untuk mengatasi keterbatasan listrik:
- Penerangan alternatif: Lampu minyak tanah dan lentera tenaga surya buatan sendiri menjadi sumber cahaya utama pada malam hari.
- Masak dengan kompor tradisional: Siti menggunakan kompor berbahan bakar kayu atau arang, mengatur kayu bakar secara efisien untuk mengurangi asap dan polusi.
- Penyimpanan makanan: Tanpa kulkas, ia mengolah sayuran menjadi acar, mengeringkan ikan, serta membuat jamu tradisional yang dapat bertahan lebih lama.
- Pendidikan anak: Anak-anak belajar membaca dan menulis dengan bantuan buku-buku bekas serta pelajaran daring yang diakses melalui ponsel sederhana yang diisi daya lewat panel surya portabel.
Meski tantangan tampak berat, Siti menegaskan bahwa kemandirian pangan menjadi kunci. Dengan memelihara 10 ekor ayam dan menyiapkan 3 kolam terpal berkapasitas 200 liter, ia dapat menghasilkan protein cukup untuk kebutuhan keluarga. Hasil penjualan ikan lele dan telur ayam di pasar desa menambah pemasukan tambahan, meski masih belum menutup semua kebutuhan.
Para tetangga mengakui bahwa ketangguhan Siti menjadi inspirasi. Mereka mulai meniru model pertanian mikro yang tidak memerlukan peralatan listrik berat. Beberapa keluarga bahkan bergabung dalam kelompok koperasi kecil untuk menjual hasil panen bersama, meningkatkan nilai jual dan memperluas jaringan pasar.
Kisah ini juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan daerah. Pemerintah Kabupaten Pandeglang telah meluncurkan program subsidi panel surya untuk rumah tidak terhubung listrik, namun sampai kini hanya sebagian kecil rumah yang mendapat manfaat. Aktivis lokal menuntut percepatan distribusi energi terbarukan agar keluarga seperti Siti tidak terus-menerus berada dalam kondisi marginal.
Selain aspek ekonomi, cerita Siti mengandung nilai sosial yang kuat. Ia menekankan pentingnya pendidikan bagi anak-anak, meskipun fasilitas belajar terbatas. Setiap sore, ia mengajak Rani dan Dedi belajar menghitung menggunakan batu, serta membaca cerita rakyat yang diturunkan secara lisan. Hal ini menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah keterbatasan modernitas.
Secara keseluruhan, keberhasilan Siti dalam mengelola rumah gubuk tanpa listrik selama 10 tahun menunjukkan bahwa kombinasi kreativitas, kemandirian pangan, dan dukungan komunitas dapat mengatasi kesulitan yang tampak tak teratasi. Pengalaman ini menjadi contoh konkret bagi wilayah-wilayah lain yang masih bergelut dengan akses energi terbatas, sekaligus memperkuat argumen bahwa solusi berbasis sumber daya lokal dapat menjadi jalan keluar yang berkelanjutan.
Dengan semangat pantang menyerah, Siti berharap bahwa suatu hari listrik akan menyentuh rumah gubuknya, namun ia tetap berkomitmen untuk menjaga kemandirian yang telah dibangun selama ini.











