Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 18 Mei 2026 | Bursa Efek Indonesia (BEI) baru-baru ini mengalami volatilitas yang cukup tinggi. Hal ini ditandai dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 4,77 persen. IHSG dibuka melemah 94,34 poin atau 1,40 persen ke posisi 6.628,98. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 9,37 poin atau 1,42 persen ke posisi 648,51.
Menurut analisis, pelemahan IHSG disebabkan oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap era suku bunga tinggi akibat ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang menyebabkan harga minyak mentah naik. Selain itu, yield US Treasury mengalami peningkatan, dengan tenor 30 tahun mencapai 5,1 persen, di tengah kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan suku bunga global akibat kenaikan harga minyak mentah.
Dalam konteks ini, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) juga mengalami penurunan saham sebesar -50,44% sejak awal tahun 2026. Direktur Amman Irwin Wan juga mengajukan pengunduran diri dari posisi yang telah diembannya sejak 2021 lalu. Meskipun demikian, perseroan tidak memiliki informasi atau fakta material yang belum disampaikan kepada publik.
Trading halt merupakan salah satu mekanisme yang diterapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menjaga stabilitas pasar dalam kondisi volatilitas tinggi. Trading halt adalah tindakan penghentian sementara perdagangan saham yang diberlakukan oleh BEI ketika IHSG mengalami penurunan tajam.
Dalam beberapa hari terakhir, bursa saham Eropa dan Wall Street juga kompak melemah. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 1,07 persen ke 49.526,17, indeks S&P 500 melemah 1,24 persen ke 7.408,50, dan indeks Nasdaq Composite melemah 1,54 persen ke 29.125,20.
Kesimpulan, volatilitas yang tinggi di Bursa Efek Indonesia merupakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh para investor. Dengan demikian, para investor harus tetap waspada dan memantau perkembangan pasar dengan seksama untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.











