Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 17 April 2026 | Nottingham Forest kembali menorehkan sejarah gemilang di kompetisi Eropa setelah berhasil menyingkirkan pemimpin Primeira Liga Portugal, FC Porto, dengan agregat 2-1 dalam laga leg pertama di City Ground. Kemenangan ini membawa Forest ke babak semifinal UEFA Europa League, di mana mereka akan berhadapan dengan rival sesama Premier League, Aston Villa. Pertandingan berlangsung pada 19 April 2024, menyuguhkan drama sepak bola yang menegangkan sekaligus menegaskan tekad klub yang sedang berjuang melawan ancaman degradasi di Liga Inggris.
Awal pertandingan langsung memanas. Pada menit keenam, Jan Bednarek (Porto) melakukan tekel keras terhadap Chris Wood (Forest) yang berujung cedera pada lutut striker Inggris. VAR yang dipimpin oleh Ivan Bebek merekomendasikan wasit Danny Makkelie untuk meninjau kembali insiden tersebut. Setelah menonton ulang tayangan, Makkelie memutuskan memberi kartu merah kepada Bednarek, menjadikan Porto bermain dengan sepuluh pemain hanya delapan menit sejak kickoff.
Keunggulan angka menjadi momen krusial bagi Forest. Empat menit setelah pengusiran Bednarek, Morgan Gibbs-White, yang sudah menjadi andalan lini tengah, memanfaatkan peluang dari Neco Williams. Bola yang dikirimkan ke kotak penalti beralih ke kaki Gibbs-White, lalu memantul setelah menyentuh kaki Pablo Rosario (Porto) dan masuk ke gawang, mencetak gol pertama bagi tuan rumah. Gol tersebut tidak hanya menambah keunggulan numerik, tetapi juga memberikan kepercayaan diri pada skuad yang dipimpin oleh pelatih Vitor Pereira.
Setelah gol pembuka, Porto berusaha bangkit. William Gomes dan Alan Varela masing-masing menembak keras ke arah gawang Forest, namun kedua tembakan hanya meleset menimpa tiang gawang. Sementara itu, Forest tetap mempertahankan konsistensi defensif meski harus menahan tekanan dari serangan balik Porto yang masih berjuang mengimbangi kehilangan satu pemain. Penjaga gawang Stefan Ortega melakukan beberapa penyelamatan penting, termasuk menahan tembakan satu lawan satu dari Terem Moffi pada menit kedua.
Masalah cedera menambah dimensi tambahan pada pertandingan ini. Chris Wood, yang menjadi korban tekel Bednarek, harus digantikan karena cedera pada lututnya. Selain Wood, dua pemain lain yakni Murillo dan Callum Hudson-Odoi juga terpaksa turun karena masalah fisik. Kondisi mereka menjadi perhatian utama bagi manajer Forest menjelang laga penutup musim Premier League dan pertandingan semifinal mendatang melawan Aston Villa.
Keberhasilan Forest melangkah ke semifinal menandai pencapaian penting pertama mereka sejak 1984, ketika klub terakhir kali mencapai fase tersebut dalam UEFA Cup. Sekitar 38.000 pendukung menyaksikan pertandingan dengan antusiasme tinggi, menciptakan atmosfer yang tak terlupakan di City Ground. Bagi klub yang kini berada di zona degradasi, kemenangan ini memberikan secercah harapan dan mengalihkan fokus sejenak dari pertempuran domestik ke kemungkinan menambah trofi Eropa, menambah koleksi gelar yang pernah diraih pada era kejayaan Brian Clough pada akhir 1970-an.
Selanjutnya, Forest harus menyiapkan diri untuk melawan Aston Villa dalam semifinal yang diprediksi akan menjadi laga tarik menarik antara dua tim Midlands. Villa, yang juga berada di papan tengah klasemen Premier League, akan menjadi tantangan berat mengingat mereka memiliki skuad yang relatif lebih utuh. Namun, semangat juang yang terlihat pada laga melawan Porto dapat menjadi modal psikologis bagi Forest untuk melanjutkan performa impresif mereka di kompetisi Eropa.
Di luar lapangan, kemenangan ini menimbulkan perbincangan hangat di kalangan analis sepak bola. Beberapa menganggap keberhasilan Forest lebih karena faktor keberuntungan, terutama dengan pengusiran Bednarek yang memberikan keunggulan numerik pada menit- menit awal. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa strategi taktis Vitor Pereira serta kesiapan mental pemain dalam memanfaatkan situasi tersebut menjadi faktor penentu utama. Jika Forest dapat mengatasi masalah cedera yang menimpa beberapa pemain kunci, peluang mereka untuk melaju ke final dan bahkan mengamankan trofi Eropa menjadi semakin realistis.
Dengan semangat yang masih menyala, Nottingham Forest kini menatap masa depan dengan optimisme. Meski tantangan di Liga Inggris masih mengintai, pencapaian di panggung Eropa menunjukkan bahwa klub ini masih memiliki kualitas untuk bersaing di level tertinggi. Para pendukung tentu menantikan kelanjutan perjalanan klub kesayangan mereka, berharap bahwa kisah “fairy‑tale” ini dapat berlanjut hingga akhir musim, baik di kompetisi domestik maupun Eropa.









