Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 08 Mei 2026 | Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengaku prihatin atas penutupan produsen baja PT Krakatau Osaka Steel (KOS) yang berimbas pada pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap ratusan karyawan. Sebelumnya diwartakan PT KOS akan bersiap menutup seluruh kegiatan usaha pada Juni 2026. Sebelumnya pada April kemarin, perusahaan juga sudah menghentikan kegiatan produksi. Diperkirakan sekitar 200 karyawan akan di-PHK akibat kebijakan tersebut.
“Kami turut prihatin atas kondisi yang dihadapi para pekerja PT Krakatau Osaka Steel. Pemerintah memahami bahwa keputusan ini memberikan dampak sosial dan ekonomi yang tidak ringan. Oleh sebab itu, kami mengimbau kepada perusahaan untuk memenuhi hak-hak pekerja yang terdampak sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief.
Keputusan penghentian produksi itu disebut telah ditetapkan sejak rapat Dewan Direksi pada 23 Januari 2026. KOS juga telah mengalami kerugian sejak 2022 seiring penurunan kinerja bisnis yang terus berlanjut. Industri baja dalam negeri sendiri menghadapi pukulan berat akibat kombinasi kelebihan pasokan global, banjir impor baja murah dan melemahnya permintaan domestik yang terus menekan daya saing produsen lokal.
Tekanan terhadap perusahaan dinilai bukan semata persoalan internal, melainkan juga akibat derasnya persaingan global, terutama dari produsen baja Tiongkok yang memiliki keunggulan skala produksi besar dan efisiensi biaya tinggi. “Kondisi ini menempatkan industri baja nasional pada posisi yang sulit. Di satu sisi, produsen dalam negeri berkomitmen menjaga kualitas produk, namun di sisi lain harus menghadapi tekanan harga dari produk impor yang lebih rendah. Situasi ini semakin diperberat oleh melemahnya permintaan domestik, khususnya dari sektor konstruksi,” jelas Febri.
Penurunan permintaan baja konstruksi di pasar lokal menjadi faktor penting karena selama ini sektor tersebut menjadi salah satu penyerap utama produksi baja nasional. Ketika proyek konstruksi melambat, tekanan terhadap produsen domestik semakin besar. Febri menambahkan, kombinasi tekanan global, overcapacity baja dunia, serta impor murah membuat ruang bertahan industri nasional semakin sempit.
“Selain keterbatasan diversifikasi produk, penurunan permintaan dan tekanan impor baja murah, kondisi kelebihan pasokan di tingkat global juga turut memengaruhi daya saing perusahaan,” ungkapnya.
PT Krakatau Osaka Steel resmi menutup operasional dan melakukan PHK terhadap 200 pekerja pada Juni mendatang di Indonesia. Banjir impor baja murah asal China menyebabkan krisis struktural yang mengancam keberlangsungan industri baja nasional serta produktivitas domestik. Pemerintah didesak segera menerapkan kebijakan bea masuk anti-dumping untuk mencegah penutupan lebih banyak perusahaan baja di masa depan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara memperingatkan jika pemerintah masih terus membiarkan impor baja murah dari China, maka akan lebih banyak lagi produsen baja Indonesia yang tutup disusul dengan badai PHK yang lebih hebat. Peringatan itu disampaikan Bhima setelah PT Krakatau Osaka Steel (KOS) memutuskan untuk menutup operasinya di Indonesia pada Juni mendatang sekaligus melakukan PHK kepada 200 pekerja.
Penutupan KOS, kata Bhima, harus dibaca sebagai alarm besar bahwa industri baja nasional sedang menghadapi ancaman deindustrialisasi jika pemerintah tidak segera memperkuat perlindungan perdagangan. “Kalau tidak ya tinggal tunggu giliran perusahaan baja apa lagi yang akan tutup,” kata Bhima.
Ia menjelaskan penutupan PT KOS menjadi bukti nyata tekanan berat yang kini dihadapi industri baja nasional akibat banjir impor baja murah, terutama dari China yang menghasilkan persaingan tidak seimbang bagi produsen baja domestik. Menurut Bhima, KOS kini menjadi korban terbaru setelah sebelumnya pabrik Metal Steel Group milik Ispat Indo di Surabaya juga tutup pada Oktober 2025.
“Sebetulnya ini sangat disayangkan ya di tengah kondisi ekonomi global dan domestik yang sedang mengalami penurunan trend akibat perang terutama di sektor baja. Krakatau Osaka Steel (KOS) ini sebetulnya korban kedua, sebelumnya di Oktober 2025 pabrik Metal Steel Group milik Ispat Indo yang beroperasi di Surabaya juga tutup,” kata Bhima.
Ia menilai rangkaian penutupan tersebut menunjukkan industri baja nasional sedang menghadapi tekanan struktural serius akibat derasnya impor baja murah asal China. “Jadi sebenarnya ini krisis struktural industri baja domestik akibat banjir impor baja murah asal China,” ujarnya.
Produsen baja nasional kini harus bersaing dengan produk China yang masuk dengan harga jauh lebih murah, sementara kapasitas produksi China sangat besar dan sulit ditandingi. “Produksi baja China dalam setahun itu sekitar 1 miliar ton. Bayangkan 2 persen saja di ekspor ke Indonesia, jumlahnya sudah melampaui kapasitas produksi Indonesia,” katanya.
Dengan skala sebesar itu, menurut Bhima, sedikit saja limpahan ekspor China ke Indonesia sudah cukup menekan pasar domestik dan mempersempit ruang bagi produsen lokal seperti KOS. “Nah, ini kan persaingan yang tidak fair mengingat harga baja China yang lebih murah,” ujarnya.
Kesimpulan dari penutupan PT Krakatau Osaka Steel ini menunjukkan bahwa industri baja nasional sedang menghadapi tekanan struktural serius dan memerlukan perhatian serius dari pemerintah untuk memperkuat perlindungan perdagangan dan meningkatkan daya saing produsen domestik.











