Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 07 Mei 2026 | Penyerang Bhayangkara Presisi Lampung FC, Henry Doumbia, mengeluarkan pernyataan resmi melalui akun Instagram pribadinya pada Selasa, 6 Mei 2026, terkait insiden yang ia klaim sebagai tindakan rasisme dalam laga pekan ke‑30 Liga Super antara Bhayangkara dan Persib Bandung di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung. Doumbia menegaskan bahwa ia yakin dengan apa yang didengarnya di lapangan, dan tidak akan mengangkat isu tersebut tanpa alasan yang kuat.
Menurut Doumbia, pada menit‑menit akhir pertandingan, kapten Persib Bandung, Marc Klok, mengucapkan kalimat “give me the ball back”. Doumbia mengklaim bahwa ia menafsirkan kata “back” sebagai “black”, sehingga menilai ucapan tersebut mengandung unsur rasis. Ia menyatakan rasa kecewa dan kebingungan karena ini merupakan pengalaman pertama dalam kariernya yang melintasi beberapa negara—Thailand, Uni Emirat Arab, Libya, dan Malaysia—untuk menghadapi tuduhan serupa.
Marc Klok kemudian memberikan klarifikasi melalui pernyataan tertulis. Ia menegaskan bahwa maksud sebenarnya adalah meminta bola agar pertandingan dapat segera dilanjutkan setelah Persib memperkecil ketertinggalan. Klok menambahkan bahwa tidak ada niat diskriminatif dalam ucapannya, dan menyesalkan adanya kesalahpahaman yang terjadi di antara pemain.
Doumbia, yang sejak pertengahan musim bergabung dengan Bhayangkara, telah mencatatkan 14 penampilan, mencetak enam gol, serta memberikan tiga assist. Statistik tersebut menegaskan peran pentingnya dalam serangan tim, terutama menjelang penutup musim Liga Super 2026.
- Penampilan: 14 kali
- Gol: 6
- Assist: 3
Dalam pernyataannya, Doumbia menekankan bahwa ia tidak ingin memperpanjang konflik atau menimbulkan perpecahan di antara kedua klub. Ia menghormati Persib Bandung dan kaptennya, serta menegaskan bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang yang penuh rasa hormat. “Saya tidak ingin menciptakan konflik atau perpecahan. Sepak bola seharusnya menjadi ruang yang penuh rasa hormat,” tulisnya.
Doumbia juga menegaskan keputusannya untuk tidak memberikan komentar lebih lanjut secara publik. Ia menyerahkan seluruh proses penyelidikan dan penyelesaian kasus dugaan rasisme ini sepenuhnya kepada pihak terkait, termasuk komisi disiplin liga dan federasi sepak bola nasional. Selain itu, ia mengucapkan terima kasih kepada Bhayangkara FC atas dukungan yang diberikan selama proses ini.
Komisi Disiplin Liga Super menanggapi insiden tersebut dengan menjanjikan penyelidikan menyeluruh. Pihak berwenang berjanji akan meninjau rekaman audio serta video pertandingan, serta mendengarkan keterangan saksi, termasuk pemain, ofisial, dan penonton yang berada di stadion pada saat kejadian.
Insiden ini menambah daftar kasus serupa yang pernah mencuat dalam dunia sepak bola Indonesia, meskipun sebagian besar berujung pada klarifikasi atau permintaan maaf. Mengingat sensitivitas isu rasisme, terutama di lingkungan sport, pihak liga diharapkan dapat memberikan penanganan yang transparan dan adil, serta menegakkan standar etika yang tinggi.
Para pengamat sepak bola menilai bahwa peristiwa ini mencerminkan pentingnya komunikasi yang jelas di antara pemain, terutama yang berasal dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda. “Kesalahpahaman bahasa dapat dengan mudah menimbulkan interpretasi yang keliru, terutama dalam tekanan pertandingan,” ujar seorang analis olahraga yang tidak disebutkan namanya.
Meski demikian, Doumbia tetap menegaskan kepercayaannya pada sistem dan proses yang ada. Ia berharap hasil penyelidikan dapat memberikan keadilan bagi semua pihak, sekaligus menjadi pelajaran bagi klub dan pemain untuk meningkatkan sensitivitas serta pemahaman lintas budaya.
Dengan menyelesaikan isu ini secara internal, Bhayangkara FC berkomitmen untuk tetap fokus pada target kompetitif di liga. Tim pelatih dan manajemen menegaskan bahwa mereka akan terus memberikan dukungan penuh kepada Doumbia, baik di dalam maupun di luar lapangan, serta memastikan bahwa suasana tim tetap kondusif.
Secara keseluruhan, insiden ini menyoroti tantangan yang dihadapi pemain asing dalam menyesuaikan diri dengan bahasa dan budaya lokal, sekaligus menegaskan pentingnya prosedur resmi dalam menangani tuduhan sensitif seperti rasisme. Bagaimana hasil akhir penyelidikan akan menjadi indikator bagi dunia sepak bola Indonesia dalam menegakkan nilai sportivitas dan toleransi.











