Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 05 Mei 2026 | Perselisihan mengenai status kewarganegaraan pemain sepak bola Belanda kembali mencuat setelah klub-klub Eredivisie dan Eerste Divisie mengajukan keberatan atas kelayakan sejumlah pemain. Kasus paling menonjol melibatkan NAC Breda yang menuntut replay pertandingan melawan Go Ahead Eagles karena defender Dean James dianggap tidak memenuhi syarat bermain setelah mengubah kewarganegaraan menjadi Indonesia. Keputusan pengadilan yang akan datang dapat memicu lebih dari seratus tantangan hukum, menempatkan musim Eredivisie dalam ketidakpastian.
Di tengah kekhawatiran ini, nama NEC Nijmegen dan Telstar muncul sebagai contoh klub yang turut menyiapkan langkah hukum. Kedua klub, bersama dengan Ajax, Feyenoord, dan FC Volendam, menyatakan akan melindungi hak mereka sambil menunggu kejelasan regulasi dari KNKN. Meskipun belum ada permohonan replay resmi, persiapan ini menunjukkan betapa luasnya dampak potensi putusan terhadap kompetisi.
Berbagai pemain yang terlibat memiliki latar belakang serupa: lahir di Belanda, kemudian mengambil kewarganegaraan negara lain untuk memperkuat timnas masing‑masing. Contohnya, Nathan Tjoe‑A‑On yang mewakili Indonesia, dan Tjaronn Chery yang berposisi sebagai kapten NEC dan bermain untuk Suriname. Pemerintah Belanda melarang kepemilikan ganda, sehingga pemain yang secara sukarela mengambil paspor asing otomatis kehilangan kewarganegaraan Belanda dan harus memperoleh izin kerja sebagai pemain asing.
- Dean James – Bek NAC, kini menjadi warga negara Indonesia.
- Nathan Tjoe‑A‑On – Penyerang TOP Oss, berstatus internasional Indonesia.
- Tjaronn Chery – Gelandang NEC, berwakilkan Suriname.
Menurut profesor hukum olahraga Marjan Olfers, perubahan status ini tidak hanya memengaruhi registrasi klub, tetapi juga menimbulkan konsekuensi finansial karena batasan jumlah pemain non‑UE di setiap tim. “Jika seorang pemain melepaskan kewarganegaraan Belanda, dia secara otomatis masuk dalam kategori pemain asing dan memerlukan izin kerja,” ujarnya.
KNKN mengakui bahwa James seharusnya tidak dimainkan pada pertandingan melawan Go Ahead Eagles, namun menolak memberikan replay kepada NAC Breda. Pihak liga menegaskan bahwa tidak ada pihak yang mengetahui implikasi lengkap dari perubahan kewarganegaraan hingga masalah ini terangkat. Selama sidang, pengacara KNKN Michiel van Dijk menekankan potensi dampak luas: lebih dari 200 pertandingan dapat dipertanyakan, termasuk 133 di Eredivisie.
Kasus ini menimbulkan reaksi keras dari manajer klub. Wilco van Schaik, General Manager NEC, mengkritik ketidaksiapan otoritas: “Tidak ada badan pemerintah yang memberi tahu kami dalam dua tahun terakhir. Kami bertindak dengan itikad baik,” katanya. Sementara itu, Telstar, yang berada di papan tengah klasemen, mengumumkan reservasi hak hukum untuk melindungi pemainnya yang mungkin terpengaruh oleh perubahan status kewarganegaraan.
Berbagai skenario dapat muncul jika pengadilan memutuskan mendukung NAC Breda. Klub lain dapat mengajukan gugatan serupa, memicu penundaan jadwal pertandingan, atau bahkan pembatalan hasil kompetisi. Dalam skenario terburuk, penyelesaian musim dapat terhambat, memaksa KNKN mempertimbangkan penyesuaian regulasi mengenai pemain berstatus ganda.
Untuk mengantisipasi hal ini, KNKN berencana meninjau kembali kebijakan registrasi pemain asing, memperketat prosedur verifikasi kewarganegaraan, dan berkoordinasi dengan Imigrasi serta Badan Imigrasi Belanda. Langkah ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.
Sejauh ini, belum ada keputusan final, namun ketegangan di antara klub-klub seperti NEC, Telstar, dan NAC Breda menunjukkan pentingnya kejelasan regulasi dalam menjaga integritas kompetisi. Perseteruan ini sekaligus menjadi peringatan bagi pemain yang mempertimbangkan perubahan kewarganegaraan demi ambisi internasional.
Jika keputusan pengadilan berpihak pada NAC Breda, liga harus siap menghadapi gelombang klaim legal yang dapat mengubah dinamika persaingan di Eredivisie. Sebaliknya, penolakan permohonan replay dapat menstabilkan jadwal, namun tetap meninggalkan pertanyaan tentang keadilan bagi klub‑klub yang merasa dirugikan.
Ke depannya, semua pihak diharapkan dapat menemukan solusi yang menyeimbangkan hak pemain, kepentingan klub, dan kepentingan umum kompetisi sepak bola Belanda.











