Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 03 Mei 2026 | Seorang pejabat militer senior Iran, Mohammad Jafar Asadi, mengeluarkan pernyataan tegas pada Sabtu, 2 Mei 2026, bahwa konflik baru Iran AS kemungkinan besar akan terjadi kembali. Ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Tehran berada dalam kesiapan penuh untuk menanggapi setiap langkah salah perhitungan dari Washington.
“Konflik baru Iran AS kemungkinan besar terjadi, dan berbagai bukti menunjukkan Amerika Serikat tidak mematuhi komitmen atau perjanjian apa pun,” ujar Asadi dalam kutipan yang disebarkan oleh kantor berita semi‑resmi Fars. Ia menambahkan bahwa tindakan pejabat AS lebih banyak diarahkan pada media, dengan tujuan pertama mencegah penurunan harga minyak global, dan tujuan kedua mengalihkan tekanan politik domestik.
Ketegangan ini berakar dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap instalasi strategis Iran pada 28 Februari 2026. Operasi militer tersebut menimbulkan respons balasan cepat dari Iran, termasuk penutupan sementara Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Penutupan itu menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dunia.
Berikut rangkaian peristiwa utama sejak serangan Februari:
- 28 Februari 2026 – Serangan udara gabungan AS‑Israel terhadap fasilitas nuklir dan pangkalan militer Iran.
- 1 Maret 2026 – Iran meluncurkan operasi balasan terhadap armada militer AS di Laut Tengah dan menutup Selat Hormuz selama tiga hari.
- 8 April 2026 – Gencatan senjata diumumkan melalui mediasi Pakistan, namun belum menghasilkan kesepakatan final.
- 11‑12 April 2026 – Pembicaraan lanjutan di Islamabad gagal mencapai titik temu.
- 15 April 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa menetapkan batas waktu baru, atas permintaan Pakistan.
- 22 April 2026 – Iran mengajukan proposal baru kepada Pakistan untuk melanjutkan negosiasi damai dengan AS.
Meski ada upaya diplomatik, hasilnya masih belum jelas. Kementerian Luar Negeri Iran melalui IRNA melaporkan bahwa Tehran menunggu respons konkret dari Washington dan pihak ketiga, terutama Pakistan, untuk menegosiasikan akhir perang yang masih menggantung.
Analisis para pengamat menilai bahwa pernyataan Asadi tidak sekadar retorika, melainkan mencerminkan kesiapan material dan psikologis militer Iran. Kesiapan penuh mencakup peningkatan patroli di Selat Hormuz, penyebaran sistem pertahanan udara mutakhir, serta latihan gabungan unit darat‑laut‑udara untuk mengantisipasi skenario konflik berskala lebih luas.
Di sisi lain, Amerika Serikat menekankan bahwa kehadiran militer di kawasan tetap diperlukan untuk melindungi kepentingan energi dan keamanan sekutunya, khususnya Israel. Namun, kebijakan eksternal Trump yang memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu baru menimbulkan spekulasi tentang ketidakpastian kebijakan luar negeri AS di wilayah tersebut.
Pakistan, sebagai mediator utama, berada di posisi diplomatik yang sensitif. Kabul (sic) – maksudnya Islamabad – berusaha menyeimbangkan hubungan dengan kedua belah pihak, sambil menjaga stabilitas ekonomi domestik yang sangat bergantung pada transit minyak melalui Selat Hormuz.
Jika konflik baru Iran AS terjadi, dampaknya dapat meluas ke pasar energi global, memperburuk inflasi energi, dan memicu keterlibatan negara lain di kawasan Timur Tengah. Komunitas internasional, termasuk PBB dan Uni Eropa, menyerukan penurunan ketegangan melalui dialog multilateral, namun hingga kini tidak ada inisiatif konkrit yang berhasil menurunkan ambang konflik.
Secara keseluruhan, peringatan Asadi menegaskan kembali bahwa meski gencatan senjata secara formal masih berlaku, situasi di lapangan tetap rapuh. Kesiapan penuh militer Iran, ketidakpastian kebijakan AS, serta peran mediasi Pakistan menjadi faktor kunci yang akan menentukan apakah konflik baru Iran AS benar‑benar terwujud atau dapat dihindari melalui diplomasi intensif.











