Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 03 Mei 2026 | Jakarta, 2 Mei 2026 – Hary Tanoe, pakar keuangan dan pendiri Paradigm Life, mengungkapkan serangkaian strategi yang dapat membantu keluarga Indonesia mempertahankan kekayaan lintas generasi. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Tanoe menekankan pentingnya pendekatan holistik yang menggabungkan tata kelola bisnis, pendidikan keuangan, dan perencanaan warisan tertulis.
Menurut Tanoe, banyak keluarga yang berhasil mengumpulkan aset signifikan namun gagal menyiapkan generasi berikutnya untuk mengelolanya. “Kekayaan yang tidak diiringi dengan pengetahuan dan budaya keuangan yang kuat akan mudah tergerus oleh kebiasaan konsumtif,” ujarnya. Ia mencontohkan tiga pilar utama yang harus dijalankan oleh setiap keluarga yang ingin menjaga kekayaan keluarga dalam jangka panjang.
- Perlakukan keluarga seperti sebuah perusahaan. Tanoe menyarankan agar orang tua menetapkan visi, misi, dan nilai-nilai yang jelas, mirip dengan motto perusahaan. “Berikan anak-anak peran kecil dalam ‘operasi’ keluarga, seperti mengelola uang saku melalui tugas rumah,” jelasnya. Dengan memberi insentif atas pekerjaan rumah, anak belajar tentang hubungan antara usaha dan imbalan finansial.
- Prioritaskan pendidikan keuangan sejak dini. Menurut Tanoe, pendidikan tidak boleh berhenti pada sekolah formal. Ia mendorong orang tua untuk mengajarkan konsep menabung, investasi, dan pengelolaan kredit melalui pengalaman nyata. “Jika memungkinkan, libatkan anak dalam keputusan investasi keluarga, misalnya membeli saham atau reksa dana,” kata Tanoe. Praktik ini menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesiapan menghadapi pasar keuangan.
- Rancang rencana warisan secara tertulis. Testamen hanyalah langkah pertama. Tanoe menekankan pentingnya struktur yang meminimalkan pajak warisan dan memastikan aset dialokasikan sesuai nilai-nilai keluarga. “Sebuah dokumen perencanaan yang mencakup pembagian aset, peran pengelola, serta mekanisme penyelesaian sengketa akan mengurangi konflik antar generasi,” tambahnya.
Implementasi ketiga pilar ini, kata Tanoe, membutuhkan disiplin dan konsistensi. Ia mencontohkan sebuah keluarga bisnis di Bandung yang berhasil mengubah rumah tangga menjadi entitas bisnis kecil dengan struktur organisasi formal. Anak-anak mereka tidak hanya menerima uang saku, tetapi juga diberi tanggung jawab mengelola bagian kecil dari portofolio investasi keluarga. Hasilnya, pada usia 25 tahun, mereka sudah mampu mengelola aset senilai miliaran rupiah tanpa mengorbankan nilai-nilai etika yang telah ditetapkan.
Selain tiga pilar utama, Tanoe menyoroti peran teknologi dalam memfasilitasi financial literacy. Aplikasi keuangan berbasis mobile dapat menjadi sarana edukasi interaktif, memungkinkan anggota keluarga memantau arus kas, menilai performa investasi, serta belajar mengatur anggaran secara real time.
Namun, tantangan terbesar tetap pada perbedaan pola pikir antar generasi. “Generasi milenial dan Gen Z cenderung lebih mengutamakan gaya hidup, sementara generasi sebelumnya lebih menekankan pada akumulasi aset,” ujar Tanoe. Ia menyarankan dialog terbuka secara rutin, misalnya pertemuan keluarga bulanan untuk membahas keuangan, sehingga nilai-nilai bersama dapat terus terjaga.
Dengan mengintegrasikan pendekatan bisnis, edukasi, dan perencanaan hukum, Hary Tanoe yakin bahwa keluarga Indonesia dapat menyiapkan fondasi yang kuat untuk mempertahankan kekayaan hingga anak cucu. “Kekayaan yang dikelola dengan bijak tidak hanya memberi keamanan finansial, tetapi juga warisan nilai yang tak ternilai,” tutupnya.











