Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 30 April 2026 | Pembaca kini dihadapkan pada era kendaraan yang semakin canggih, mulai dari mobil listrik hingga sedan dengan sistem bantuan mengemudi berbasis AI. Pakar keselamatan jalan, Jusri Pulubuhu, menegaskan bahwa pemahaman atas fitur mobil baru menjadi faktor krusial yang dapat memisahkan antara selamat dan celaka dalam situasi darurat. Ia menyoroti insiden taksi listrik yang tertabrak kereta api di Bekasi Timur pada akhir April 2026, di mana kegagalan pengemudi mengendalikan sistem kendaraan berkontribusi pada tragedi.
Menurut Jusri, mayoritas pengemudi di Indonesia masih mengandalkan kebiasaan membaca buku manual yang jarang atau bahkan tidak pernah dibuka. Hal ini berujung pada ketidaktahuan cara mengaktifkan prosedur darurat, seperti memindahkan tuas transmisi ke posisi netral atau menonaktifkan sistem pengereman otomatis. Pada kasus taksi listrik VinFast VF e34, kendaraan tiba‑tiba berhenti di depan perlintasan rel dan tidak dapat didorong karena sistem elektronik mengunci posisi gear ketika daya hilang.
Penjelasan teknis serupa disampaikan oleh Mahaendra Gofar, dosen National Battery Research Institute dan pendiri EV Safe. Ia menjelaskan bahwa mobil listrik modern menggunakan electronic shifter yang secara otomatis mengaktifkan rem ketika listrik padam, sehingga kendaraan tidak dapat digerakkan tanpa suplai daya tambahan. Untuk mengatasi hal ini, prosedur evakuasi biasanya melibatkan penggunaan jump starter atau sumber daya sementara agar sistem dapat dipindahkan ke posisi netral (N).
- Electronic shifter mengunci gear saat tidak ada daya.
- Rem otomatis aktif untuk mencegah kendaraan bergulir.
- Pengguna harus menyalakan kembali daya atau menggunakan alat bantu eksternal untuk mengubah posisi gear.
Jusri menekankan pentingnya pelatihan khusus bagi operator taksi dan layanan transportasi berbasis listrik. Ia mengusulkan program “safety induction” yang mencakup simulasi kegagalan sistem, cara mengaktifkan Emergency Response Procedure (ERP), dan penjelasan rinci mengenai fungsi masing‑masing fitur canggih. Tanpa edukasi ini, risiko kecelakaan serupa dapat berulang, tidak hanya pada taksi listrik tetapi juga pada kendaraan pribadi yang dilengkapi teknologi serupa.
Sementara itu, teknologi bantuan mengemudi yang terdapat pada mobil konvensional modern, seperti sistem Diamond Sense pada Mitsubishi Pajero Sport, juga menuntut pemahaman pengguna. Fitur Adaptive Cruise Control, Forward Collision Mitigation, dan Blind Spot Warning dirancang untuk meningkatkan keselamatan, namun bila pengguna tidak mengerti cara menonaktifkan atau mengatur sensornya, manfaatnya dapat berkurang atau bahkan menimbulkan kebingungan saat situasi darurat.
Berbagai studi menunjukkan bahwa kecelakaan yang melibatkan kendaraan dengan sistem elektronik canggih sering kali berakar pada kurangnya pengetahuan pengguna. Oleh karena itu, Jusri mengajak produsen, operator fleet, dan lembaga pelatihan mengintegrasikan modul edukasi tentang fitur mobil baru ke dalam program pelatihan standar. Hal ini mencakup penjelasan tentang cara membaca indikator baterai, prosedur pengisian darurat, serta langkah‑langkah mengatasi kegagalan sistem elektronik.
Implementasi edukasi ini tidak hanya meningkatkan keselamatan, tetapi juga menurunkan beban ekonomi akibat kerugian material dan korban jiwa. Pemerintah dan asosiasi otomotif diharapkan dapat berkolaborasi dengan institusi akademik untuk menyusun standar kompetensi pengemudi era digital. Dengan demikian, pengetahuan tentang teknologi kendaraan akan menjadi bagian dari budaya berkendara yang responsif dan siap menghadapi tantangan di jalan.
Kesimpulannya, era kendaraan pintar menuntut perubahan paradigma dalam cara masyarakat belajar mengemudi. Memahami fitur mobil baru bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi setiap pengemudi, baik profesional maupun pribadi, untuk memastikan keselamatan di setiap kilometer perjalanan.











