Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 15 April 2026 | Selasa, 14 April 2026, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang melanda Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kondisi cuaca ekstrem ini memicu beberapa titik longsor di tiga kapanewon, yaitu Pakem, Cangkringan, dan Tempel, mengganggu mobilitas warga serta mengancam keselamatan di area rawan lereng.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, R. Haris Martapa, menjelaskan bahwa tanah pada talud lapangan Cemoroharjo di Candibinangun (Pakem) mengalami ambrol, sementara talud jalan di Randu, Hargobinangun juga tergerus oleh material longsor. Kedua titik tersebut menyebabkan gangguan signifikan pada akses jalan utama warga.
Di Kapanewon Cangkringan, material longsor menutup jalan masuk ke Padukuhan Pentingsari, Umbulharjo. Tim BPBD bersama warga setempat segera melakukan pembersihan untuk memulihkan jalur tersebut. Sementara di Tempel, tebing sungai di Bulan, Banyurejo tergerus aliran air deras, menimbulkan risiko robohnya pohon beringin besar yang berada di atas tebing. Situasi ini dapat menimbulkan bahaya tambahan bagi penduduk sekitar bantaran sungai.
Berikut ini rangkuman titik-titik longsor yang terjadi:
- Pakem: talud lapangan Cemoroharjo, Candibinangun; talud jalan Randu, Hargobinangun.
- Cangkringan: longsor menutup akses jalan ke Padukuhan Pentingsari, Umbulharjo.
- Tempel: tebing sungai di Bulan, Banyurejo tergerus aliran air, potensi roboh pohon beringin.
Hingga laporan terakhir, belum ada korban jiwa yang tercatat. BPBD Sleman menegaskan bahwa data korban masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui sesuai perkembangan lapangan. Tim reaksi cepat telah melakukan asesmen, koordinasi lintas sektor, serta pembersihan material longsor di semua lokasi terdampak.
BMKG menjelaskan bahwa fenomena hujan lebat ini merupakan bagian dari pola curah hujan tinggi yang melanda wilayah Jawa Tengah pada periode tersebut. Analisis data curah hujan menunjukkan intensitas tinggi tidak hanya di Sleman, tetapi juga di wilayah Solo, Sukoharjo, serta daerah aliran sungai Bengawan Solo. Meskipun potensi hujan ekstrem berkurang menjelang musim kemarau di bulan Mei, pihak berwenang mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan hujan deras di sore dan malam hari.
Petugas BPBD menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, kalurahan, dan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana. Langkah-langkah yang telah diambil meliputi pembersihan material longsor, perbaikan jalur akses sementara, serta pemantauan terus-menerus terhadap kondisi lereng dan tebing. Warga diimbau untuk menghindari daerah rawan longsor, melaporkan temuan material yang menghalangi jalan, dan mengikuti arahan evakuasi bila diperlukan.
Secara keseluruhan, kejadian longsor di Sleman menggambarkan dampak langsung perubahan cuaca ekstrem terhadap infrastruktur dan keselamatan publik. Penanganan cepat oleh BPBD dan partisipasi aktif warga menjadi kunci dalam meminimalisir kerugian serta mencegah potensi bencana yang lebih luas. Masyarakat diharapkan tetap memperhatikan peringatan cuaca, menghindari area rawan, dan siap mengikuti instruksi otoritas dalam situasi darurat.

