Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 28 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah serangkaian peristiwa yang menimbulkan kontroversi dan spekulasi. Pada Sabtu malam, acara White House Correspondents’ Dinner (WHCD) di Washington D.C. diganggu oleh tembakan di luar ballroom, yang mengakibatkan evakuasi Trump dan pejabat senior. Meskipun penyelidikan mengidentifikasi pelaku berusia 31 tahun, Cole Allen, sebagai penembak yang berpotensi menghadapi hukuman penjara seumur hidup, sejumlah akun anti‑Trump di media sosial menyebarkan teori konspirasi bahwa penembakan tersebut sengaja dipentaskan oleh Gedung Putih untuk mengalihkan perhatian publik dari konflik Iran‑AS yang memicu kenaikan harga minyak.
Peneliti dari NewsGuard menyoroti bahwa teori “staged” ini, yang disebut sebagai bagian dari gerakan “BlueAnon”—parodi dari kultus kanan QAnon—telah memperoleh lebih dari 80 juta tampilan di platform X (sebelumnya Twitter) dalam dua hari pertama. Postingan‑postingan tersebut mengaitkan insiden WHCD dengan dua upaya pembunuhan yang sebelumnya dilaporkan pada tahun 2024 di Pennsylvania dan Florida, meski tidak ada bukti nyata yang mendukung klaim tersebut. Pihak Gedung Putih menuding kelompok sayap kiri sebagai penyebar kebencian yang memicu kerusuhan tersebut.
Sementara itu, pemerintahan Trump juga menindak tegas dugaan penipuan dalam program bantuan pendidikan tinggi. Tim Anti‑Fraud Task Force yang dipimpin oleh Wakil Ketua Andrew Ferguson menemukan potensi kecurangan senilai US$6,3 miliar, terutama melalui skema “ghost student” di mana bantuan federal dialokasikan kepada mahasiswa fiktif. Inisiatif ini berada di bawah pengawasan J.D. Vance, yang menekankan pentingnya memastikan dana publik hanya mengalir ke penerima yang sah, serta menuduh beberapa gubernur Demokrat memperpanjang praktik penipuan selama bertahun‑tahun.
Di ranah kebijakan luar negeri, Trump mengekspresikan ketidakpuasan yang tajam terhadap proposal baru Iran mengenai pembukaan Selat Hormuz. Menurut laporan media AS, Iran mengajukan usulan melalui mediator Pakistan yang menuntut pencabutan blokade laut AS sebagai syarat utama pembukaan selat. Trump menolak proposal tersebut, menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi Amerika untuk mengorbankan kepentingan nuklirnya demi membuka jalur pelayaran. Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menegaskan bahwa AS tidak akan bernegosiasi melalui pers dan akan tetap menuntut penghentian pengayaan uranium oleh Tehran.
Pertemuan antara Trump dan Raja Charles III pada kunjungan kenegaraan sang monarki ke Amerika Serikat menambah lapisan drama politik. Seorang ahli pembaca bibir mengklaim bahwa Trump berbisik kepada Raja Charles mengenai insiden penembakan, mengatakan, “I’d rather not stand about here too long,” yang kemudian direspon oleh sang Raja dengan nada khawatir. Selain itu, Trump konon menyebutkan bahwa ia sedang berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang “menginginkan perang”. Pernyataan ini menambah ketegangan diplomatik, terutama menjelang pidato Raja Charles di Kongres.
Di dalam partainya sendiri, Trump mengeluarkan peringatan keras kepada anggota Republik mengenai Save America Act, menuduh mereka memiliki “unrecoverable death wish” jika tidak mendukung paket legislasi tersebut. Peringatan ini mencerminkan dinamika internal Partai Republik yang semakin terpecah antara pendukung setia Trump dan faksi moderat yang menolak kebijakan fiskal kontroversial.
Berbagai peristiwa ini menunjukkan bagaimana nama Trump terus menjadi magnet bagi spekulasi, kebijakan agresif, serta konflik internasional. Dari tuduhan penembakan palsu hingga kebijakan anti‑penipuan dan ketegangan dengan Iran, setiap langkahnya menimbulkan dampak yang meluas baik di dalam negeri maupun kancah global. Pengamat politik menilai bahwa kemampuan Trump dalam mengendalikan narasi media—baik melalui media sosial maupun pertemuan diplomatik—menjadi faktor kunci dalam mempertahankan basis pendukungnya sekaligus memicu perlawanan yang semakin intens.











