Internasional

Rusia dan Korea Utara Perkuat Kerja Sama Militer, Apa Dampaknya pada Konflik Ukraina?

×

Rusia dan Korea Utara Perkuat Kerja Sama Militer, Apa Dampaknya pada Konflik Ukraina?

Share this article
Rusia dan Korea Utara Perkuat Kerja Sama Militer, Apa Dampaknya pada Konflik Ukraina?
Rusia dan Korea Utara Perkuat Kerja Sama Militer, Apa Dampaknya pada Konflik Ukraina?

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 17 Agustus 2026 | Konflik antara Rusia dan Ukraina terus memanas. Badan Intelijen Pertahanan Ukraina baru-baru ini mengungkap rencana penambahan pasukan Korea Utara di perbatasan Rusia. Langkah ini dirancang untuk mendukung logistik dan operasional militer Rusia dalam merebut wilayah Donbas, meliputi Luhansk dan Donetsk, sebelum akhir 2026.

Rusia dan Korea Utara mematangkan pengerahan hingga 50.000 prajurit sebelum akhir November untuk membantu perebutan Donbas pada 2026. Pasukan Korea Utara direncanakan menjaga Kursk, Bryansk, dan Belgorod, sehingga tentara Rusia dapat dirotasi ke garis depan. 9.500 personel Korea Utara disebut sudah berada di Rusia.

Kerja sama antara Rusia dan Korea Utara juga mencakup 90 personel rudal di Voronezh serta pasokan 40 rudal balistik Korea Utara, yang menurut laporan digunakan untuk memperkuat serangan Rusia ke Ukraina. Langkah ini dipicu tingginya kerugian tentara Rusia di medan perang. Intelijen Ukraina mencatat lebih dari 42.000 prajurit Rusia tewas atau terluka selama Juli lalu.

Di sisi lain, Ukraina menolak rencana pemilu parlemen Rusia di wilayah pendudukan, menyatakan seluruh pemungutan suara dan hasilnya ilegal serta batal demi hukum. Kiev mengimbau komunitas internasional menolak agenda Moskow, menegaskan kehadiran pengamat dari sejumlah negara bekas Uni Soviet tidak melegitimasi pemilu tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kembali mengatakan bahwa pertahanan udara negaranya membutuhkan dukungan. Melalui media sosial, ia mengatakan, "Rudal pencegat kami menyusut dua setengah kali dibandingkan tahun 2025. Rusia memiliki dua kali lebih banyak rudal balistik per bulan dibandingkan sebelumnya." Zelensky mengatakan negaranya akan dapat melewati musim dingin dan menyelamatkan nyawa orang-orang jika Amerika Serikat menjual 5 persen rudal pencegat PAC-3 kepada Ukraina.

PBB mengatakan setidaknya 437 warga sipil tewas bulan lalu di Ukraina. Angka itu merupakan yang tertinggi sejak Mei 2022 selama tahap awal invasi Rusia. Misi Pemantauan Hak Asasi Manusia PBB di Ukraina juga mengatakan bahwa jumlah anak-anak yang meninggal dan luka-luka pada Juli mencapai lebih dari 180.

Jepang juga melayangkan protes diplomatik keras setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan perdananya ke Kepulauan Kuril, wilayah kepulauan di Samudra Pasifik yang dikuasai Moskwa tetapi juga diklaim oleh Tokyo. Dalam kunjungan tersebut, Putin mendatangi pabrik pengolahan ikan, rumah sakit, serta sekolah di Pulau Iturup, salah satu pulau di bagian selatan rantai gunung berapi tersebut.

Konflik antara Rusia dan Ukraina terus berlanjut, dengan Rusia berusaha memperkuat posisinya melalui kerja sama dengan Korea Utara. Sementara itu, Ukraina terus berusaha mempertahankan wilayahnya dan mendapatkan dukungan dari komunitas internasional. Dampak dari konflik ini tidak hanya dirasakan oleh kedua negara, tetapi juga oleh negara-negara lain di sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *