Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp 17.960 Setelah Rilis Defisit Neraca Perdagangan US$450 Juta di Juni 2026

×

Rupiah Menguat ke Rp 17.960 Setelah Rilis Defisit Neraca Perdagangan US$450 Juta di Juni 2026

Share this article
Rupiah Menguat ke Rp 17.960 Setelah Rilis Defisit Neraca Perdagangan US$450 Juta di Juni 2026
Rupiah Menguat ke Rp 17.960 Setelah Rilis Defisit Neraca Perdagangan US$450 Juta di Juni 2026

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 06 Agustus 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini. Pada Selasa, 4 Agustus 2026, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 18.037. Posisi rupiah itu melemah 46 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.991 pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026.

Sementara itu, perdagangan di pasar spot pada Rabu, 5 Agustus 2026 hingga pukul 09.09 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.960 per dolar AS. Posisi itu menguat 67 poin atau 0,37 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 18.027 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 defisit US$450 juta. Hal itu disebabkan oleh defisit pada komoditas migas, yaitu defisit sebesar US$3,49 miliar dengan komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan juga minyak mentah.

Defisit terjadi karena kinerja ekspor yang tercatat US$25,46 miliar, lebih rendah dibandingkan impor yang tercatat sebesar US$25,91 miliar per Juni 2026. Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 berada di level US$145 miliar, disebabkan oleh keperluan stabilitas nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Posisi cadangan devisa ini turun dari posisi tertingginya, yakni US$156,5 miliar pada akhir Desember 2025, atau turun hingga mencapai US$11 miliar. Angka ini dinilai masih aman karena cadangan devisa ini masih mencukupi untuk kebutuhan 5,4 kali impor.

Sementara itu, batasan yang menjadi benchmark internasional adalah kecukupan cadangan devisa untuk 3 bulan impor dan pembayaran utang. Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026, setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya.

Namun, pemulihan sektor industri dinilai masih berlangsung secara bertahap karena kenaikan biaya bahan baku, pelemahan permintaan ekspor, dan kehati-hatian pelaku usaha dalam membeli bahan baku sehingga masih membatasi laju pertumbuhan. Berdasarkan laporan S&P Global Indonesia, Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026, dari posisi 46,9 pada Juni 2026.

Angka di atas level 50 menunjukkan bahwa kondisi operasional manufaktur kembali membaik pada awal kuartal III-2026. Perbaikan tersebut ditopang oleh kembalinya pertumbuhan volume produksi setelah empat bulan mengalami kontraksi. Namun, laju kenaikannya masih relatif tipis.

S&P Global mencatat peningkatan produksi didorong oleh mulai membaiknya kondisi permintaan dan meningkatnya kepercayaan pelanggan, meski kenaikan harga bahan baku disebut masih menahan laju ekspansi. Secara bersamaan, Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan alias month-to-month (mtm), setelah sebelumnya mencatat inflasi 0,44 persen pada Mei 2026.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Juli 2026, Indonesia mencatatkan inflasi 2,88 persen secara tahunan, dan secara tahun kalender terjadi inflasi 1,65 persen year-to-date (ytd) akibat penurunan Indeks Harga Konsumen dari 111,89 pada Juni 2026 menjadi 111,73 pada Juli 2026.

Kesimpulan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini. Posisi rupiah itu melemah 46 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.991 pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026. Sementara itu, perdagangan di pasar spot pada Rabu, 5 Agustus 2026 hingga pukul 09.09 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.960 per dolar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *