Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 05 Agustus 2026 | Wilayah barat Iran, terutama Provinsi Kurdistan, mayoritas dihuni etnis Kurdi yang telah lama menentang rezim Ayatollah. Baru-baru ini, serangan terhadap pasukan Iran di Marivan, Provinsi Kurdistan, Rojhelat, dilaporkan dilakukan oleh sayap bersenjata kelompok Kurdi, Kurdistan Free Life Party (PJAK). Serangan ini menewaskan seorang prajurit Angkatan Darat Iran dan menyebabkan satu prajurit lainnya mengalami luka serius.
Bentrokan bersenjata di dekat desa perbatasan Sianav, Kabupaten Marivan, terjadi pada Minggu, 2 Agustus 2026. Menurut informasi yang diterima Hengaw Organization for Human Rights, para pejuang dari kelompok oposisi Kurdi terlibat bentrokan dengan pasukan Iran di dekat pangkalan militer di Desa Sianav, Kabupaten Marivan, sekitar pukul 03.00 waktu setempat.
Prajurit yang tewas dalam bentrokan tersebut diidentifikasi sebagai Abolfazl Goudarzi. Satu anggota Angkatan Darat lainnya mengalami luka serius dan dilarikan ke pusat medis di Marivan untuk mendapatkan perawatan. Menurut informasi Hengaw, tidak ada anggota PJAK yang menjadi korban dalam bentrokan tersebut.
Brigade Marivan ke-328 Angkatan Darat Iran mengatakan bahwa pangkalan perbatasan tersebut diserang menggunakan amunisi berkeliaran (loitering munitions) dan tembakan RPG. PJAK mengatakan serangan itu dilakukan sebagai aksi balasan atas tiga anggota dari satu keluarga Kurdi yang tewas pada pekan lalu.
Sejarah Kurdi di Iran, seperti halnya di Turki, merupakan perlawanan untuk menegakkan otonomi sendiri. Namun, selama itu pula suku Kurdi mendapatkan tekanan dari rezim di Iran. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan diskusi dengan rekan-rekannya dari Pakistan dan Oman untuk membahas perkembangan regional.
Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa konflik antara Kurdi dan rezim Iran masih berlanjut. Kurdi Iran menentang kekuasaan Ayatollah dan terus berjuang untuk otonomi dan hak-hak mereka. Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa situasi di wilayah tersebut masih tidak stabil dan memerlukan perhatian dari komunitas internasional.











