Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 28 Juli 2026 | Beberapa waktu terakhir, berita bohong atau hoax marak beredar di media sosial. Polda Metro Jaya berhasil membongkar sindikat buzzer penyebar hoax di medsos dengan menangkap delapan orang tersangka. Sindikat tersebut telah beroperasi sejak 2024 dan meraup Rp 220 juta.
Sindikat buzzer penyebar hoax diungkap Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya. Kasus itu terungkap dari laporan yang disampaikan di Polda Metro Jaya. Polisi lalu melakukan penyelidikan dan penyidikan.
Delapan tersangka itu masing-masing berinisial ADIK, BCK, AYV, YAP, YNI, MMAA, G, dan S. Para pihak yang diamankan ini memiliki peran mulai dari editor, pengelola akun media sosial hingga pihak yang menawarkan proyek.
Penyidik kemudian meningkatkan status penyelidikan ke tahap penyidikan dan menangkap delapan tersangka. Sindikat tersebut memiliki peran sebagai perekrut dan pembiayaan, pembuat konten, penyebar konten, perbantuan untuk mengangkat konten atau sering disebut dengan istilah booster, dan penyebaran konten secara masif untuk blasting.
Di sisi lain, berita bohong juga menimpa Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia mengklaim Iran meminta penghentian serangan militer dan pembukaan negosiasi. Namun, klaim Trump ini langsung dibantah keras oleh Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei meluruskan spekulasi diplomasi yang beredar.
Iran membantah adanya komunikasi langsung dengan Amerika Serikat terkait kemungkinan pembukaan kembali jalur negosiasi antara kedua negara. Sementara itu, di Indonesia, ajudan eks Jampidsus Febrie Adriansyah dikabarkan tewas ditembak. Namun, Polisi memastikan informasi yang beredar tidak sesuai dengan fakta.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan pihaknya telah melakukan konfirmasi kepada penyidik Polres Metro Jakarta Selatan. Hasil pengecekan memastikan ajudan Febrie Adriansyah masih dalam keadaan hidup. Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
Menurut Kepala Badan Komunikasi RI Muhammad Qodari, narasi penghapusan bansos demi MBG ini disebarkan sejumlah unggahan pada pertengahan Juli 2026. Bansos yang dihapus itu antara lain Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), hingga BPJS. Narasi itu dipastikan sebagai kabar bohong atau hoaks.
Kemensos juga menyatakan bahwa seluruh program bansos di instansinya masih terus berjalan. Kemensos akan tetap menyalurkan bansos PKH dan BNPT atau sembako Triwulan III pada Juli-September 2026 mulai 20 Juli 2026. Mensos Saifullah Yusuf memastikan bansos yang diberikan tidak akan dipotong, baik dari jumlah penerima atau nominal bantuannya.
Kesimpulan, berita bohong atau hoax sangat merugikan dan dapat menimbulkan kepanikan di masyarakat. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum dipastikan kebenarannya.









