Ekonomi

Happy Hapsoro Jajaki Akuisisi Aset Migas di Australia dan Malaysia, Ini Proyeknya

×

Happy Hapsoro Jajaki Akuisisi Aset Migas di Australia dan Malaysia, Ini Proyeknya

Share this article
Happy Hapsoro Jajaki Akuisisi Aset Migas di Australia dan Malaysia, Ini Proyeknya
Happy Hapsoro Jajaki Akuisisi Aset Migas di Australia dan Malaysia, Ini Proyeknya

Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 27 Juli 2026 | PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) tengah menyiapkan langkah ekspansi di sektor hulu migas. Emiten yang terafiliasi dengan pebisnis ulung Happy Hapsoro ini menjajaki rencana akuisisi aset migas di Australia hingga Malaysia.

Direktur Utama Raharja Energi Cepu, Sumantri mengatakan bahwa selain Australia dan Malaysia, perseroan saat ini juga melihat sejumlah aset migas hingga kawasan Timur Tengah. Namun, Sumantri menyatakan bahwa penjajakan tersebut masih tahap awal dan belum mengarah pada keputusan akuisisi.

Sebelumnya, Chief Financial Officer (CFO) Raharja Energi Cepu, Adrian Hartadi mengatakan bahwa perusahaan juga membidik sejumlah aset ladang minyak di Thailand, Turki, Irak hingga Amerika Serikat (AS). Ia mengatakan bahwa strategi akuisisi tetap menjadi fokus utama RATU untuk mendorong pertumbuhan anorganik.

Adrian mengatakan bahwa RATU berharap dapat merealisasikan sebagian akuisisi dari target-target ladang migas itu tahun ini apabila kondisi pasar mendukung. Namun, kata Adrian, hingga saat ini proses negosiasi masih menghadapi tantangan akibat tingginya harga minyak dunia.

Menurutnya, banyak pemilik aset menggunakan asumsi harga minyak di kisaran US$100 per barel sebagai dasar valuasi. Padahal, RATU menilai harga minyak lebih realistis dan berkelanjutan berada pada rentang US$ 60-70 per barel.

Di sisi kinerja keuangan, Adrian mengatakan bahwa RATU menargetkan laba bersih sebesar US$ 26,75 juta pada 2026, hampir dua kali lipat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar US$ 15,2 juta. Sementara itu, pendapatan diperkirakan relatif stabil di kisaran US$ 51 juta.

Adrian menjelaskan bahwa pertumbuhan laba ini diharapkan ditopang dari kanikan kontribusi dari kepemilikan participating interest di Blok Madura Strait dan tambahan pendapatan lain dari aset migas lainnya.

Sementara itu, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menggandeng PT Petrosea Tbk (PTRO) untuk menggarap tambang batu bara milik SINI di Kalimantan Tengah. Kerja sama ini akan menjadi katalis baru bagi pertumbuhan kedua emiten.

Melalui dua anak usahanya, PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP), SINI menandatangani Perjanjian Jasa Pertambangan dengan PTRO. Pada proyek tersebut, PTRO akan menggarap proyek SINI mencakup pekerjaan pengupasan lapisan penutup (overburden removal) hingga penambangan batu bara di Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Perjanjian berlaku selama umur tambang (life of mine). SINI memperkirakan kerja sama tersebut berpotensi menghasilkan tambahan pendapatan hingga Rp 57,05 triliun sepanjang masa kontrak.

Pada tambang milik PBC, volume pengupasan lapisan penutup diperkirakan mencapai 189 juta bank cubic meter (BCM) dengan produksi batu bara sekitar 42 juta ton. Perseroan memperkirakan potensi pendapatan mencapai US$ 2,6 miliar atau sekitar Rp 45,57 triliun untuk batu bara berkalori GAR 4.200.

Sementara itu, tambang milik CBP diproyeksikan memiliki volume pengupasan sekitar 40 juta BCM dan produksi 8 juta ton batu bara. Potensi pendapatan dari proyek tersebut diperkirakan mencapai US$ 656 juta atau sekitar Rp 11,48 triliun untuk batu bara berkalori GAR 5.000.

Kerja sama ini bertujuan untuk mendukung pencapaian target produksi batubara yang optimal serta penerapan tata kelola pertambangan yang baik (Good Mining Practices), sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi Perusahaan dan seluruh entitas anak.

Selain memperoleh kontrak jasa pertambangan, PTRO juga memperkuat posisi sebagai pemegang saham SINI. Pada 23 Juli 2026, PTRO telah menyelesaikan pelaksanaan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue dengan menyetor modal sekitar Rp 1,19 triliun.

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan PTRO di SINI meningkat menjadi 19,88%. Di saat yang sama, PTRO mengalihkan 99,99% kepemilikan PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) kepada SINI. KMS merupakan pemegang saham PT Cristian Eka Pratama (CEP), perusahaan tambang batu bara yang memiliki Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Masuknya CEP melengkapi portofolio aset tambang SINI yang sebelumnya telah mencakup PT Persada Kapuas Prima, PT Pasir Bara Prima, PT Pesona Bara Cakrawala dan PT Cakrawala Bara Persada. Menariknya, CEP, PBC, PBP dan CBP juga merupakan klien jasa pertambangan Petrosea.

Seiring dengan dua aksi korporasi antara emiten Hapsoro dan Prajogo itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menilai kerja sama tersebut mempercepat transformasi SINI menjadi perusahaan tambang batu bara yang terintegrasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *