Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 22 Juli 2026 | Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan udara ke pangkalan militer AS di Yordania. Serangan ini menyebabkan beberapa personel militer AS tewas.
Menurut pernyataan IRGC, serangan tersebut merupakan bagian dari fase ke-24 Operasi Nasr 2. IRGC juga menyatakan bahwa mereka telah menargetkan area di mana tentara Angkatan Darat AS ditempatkan di kawasan Rukban, Yordania, dan menewaskan beberapa di antara mereka.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memerintahkan militer AS untuk menyiapkan aksi balasan berlipat ganda terhadap Iran jika ada prajurit AS yang terbunuh. Trump juga telah menginstruksikan komando tinggi militer AS untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi kepentingan AS di kawasan Timur Tengah.
Serangan ini menandai babak baru eskalasi militer terbuka antara AS dan Iran, yang semakin sulit dibendung. Konflik ini dimulai sejak Juli lalu, ketika militer AS melancarkan serangan terhadap Iran, dan IRGC melakukan serangan balasan ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Yordania, yang merupakan salah satu mitra keamanan utama AS di Timur Tengah, telah menjadi lokasi penempatan pasukan dan fasilitas militer AS. Namun, IRGC Iran mengklaim bahwa mereka telah mendapatkan dukungan informasi intelijen dari warga sipil dan personel militer Yordania dalam operasi serangan terhadap aset militer AS di negara tersebut.
AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri konflik, namun serangan terbaru ini menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut tidak berlaku lagi. Situasi ini semakin memanas, dan kemungkinan besar akan terjadi eskalasi lebih lanjut antara AS dan Iran.
Kesimpulan, konflik antara AS dan Iran semakin memanas setelah serangan IRGC ke pangkalan militer AS di Yordania. Serangan ini menewaskan beberapa personel militer AS dan menandai babak baru eskalasi militer terbuka antara kedua negara. Situasi ini sangat tidak stabil dan berpotensi menyebabkan konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.











