Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 18 Juli 2026 | Inggris baru-baru ini melakukan pengambilalihan penuh atas pabrik baja British Steel setelah perusahaan Cina, Jingye Group, gagal dalam rencana penyelamatan. Keputusan ini menandai intervensi besar dalam kebijakan industri Inggris selama beberapa dekade dan menyebabkan ketegangan dalam hubungan diplomatik dengan Cina.
British Steel, yang dimiliki oleh Jingye sejak 2020, mengalami kerugian sebesar £700.000 per hari dan 2.700 pekerjaan terancam. Pemerintah Inggris memutuskan untuk mengambil alih pabrik baja ini untuk melindungi kemampuan industri yang kritis dan mencegah kerugian yang lebih besar.
Cina bereaksi keras terhadap keputusan ini, dengan menyatakan bahwa tindakan Inggris dapat merusak kepercayaan investor dan mempengaruhi hubungan perdagangan antara kedua negara. Perdagangan bilateral antara Inggris dan Cina bernilai £104,9 miliar pada tahun lalu.
Pengambilalihan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan industri baja di Inggris dan bagaimana pemerintah dapat mendukung sektor ini. Dengan penutupan blast furnace di Scunthorpe, Inggris kehilangan kemampuan produksi baja yang signifikan, yang dapat memiliki dampak jangka panjang pada industri manufaktur di negara ini.
Dalam beberapa hari terakhir, situasi politik dan ekonomi global terus berubah, dan keputusan Inggris untuk mengambil alih British Steel hanya salah satu contoh dari dinamika kompleks yang sedang berlangsung. Dalam konteks ini, penting untuk memantau perkembangan lebih lanjut dan memahami implikasi dari keputusan ini bagi hubungan internasional dan ekonomi global.
Kesimpulan dari pengambilalihan pabrik baja British Steel oleh pemerintah Inggris menunjukkan bahwa keputusan ini memiliki dampak yang signifikan pada hubungan diplomatik dengan Cina dan industri baja di Inggris. Penting untuk terus memantau situasi ini dan memahami implikasi jangka panjang dari keputusan ini.









