Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 14 Juli 2026 | Konflik antara Houthi dan Arab Saudi kembali memanas setelah serangan ke Bandara Sanaa. Kelompok Houthi yang didukung Iran menyebut ledakan itu terjadi dalam serangkaian serangan udara Arab Saudi di Sanaa. Serangan itu disebut sebagai balasan atas gempuran udara ke Bandara Internasional Sanaa pada hari yang sama, yang dituding dilakukan Arab Saudi.
Sementara itu, di Indonesia, Bandara Husein Sastranegara dipastikan segera kembali melayani penerbangan pesawat jet setelah PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports mengebut berbagai persiapan operasional. Sebanyak enam maskapai telah mengajukan rute domestik dan internasional untuk meningkatkan konektivitas serta pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat.
Di sisi lain, Piala Dunia 2026 diperkirakan menjadi edisi dengan jejak karbon terbesar sepanjang sejarah turnamen ini. Hal itu karena jumlah peserta bertambah menjadi 48 tim, pertandingan digelar di 16 kota, serta tersebar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dilansir Reuters, platform akuntansi karbon Greenly memperkirakan turnamen ini dapat menghasilkan sekitar 7,8 juta ton emisi karbon dioksida (CO₂) atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan Piala Dunia Qatar 2022.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak lingkungan sebuah ajang olahraga tidak hanya berasal dari pembangunan infrastrukturnya, tetapi juga dari seluruh aktivitas yang terjadi sebelum, selama, dan setelah pertandingan berlangsung. Sebab itu, upaya menekan emisi pada ajang olahraga berskala global perlu dilakukan dari berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga pengelolaan operasional acara.
Sebagai kesimpulan, konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap penerbangan, serta Piala Dunia 2026 yang diperkirakan memiliki jejak karbon terbesar, menunjukkan bahwa isu-isu global seperti konflik dan perubahan iklim memerlukan perhatian dan tindakan yang serius dari berbagai pihak.











