Lintas Opini – Berita Terkini, Akurat, Terpercaya – 09 Juli 2026 | Pertarungan antara Belgia dan Amerika Serikat (AS) tidak hanya terjadi di lapangan hijau, tetapi juga di kancah politik. AS baru saja merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-250, yang disebut sebagai “semi-quincentennial” atau “quarter-millennial”. Sementara itu, Presiden Donald Trump masih terpaku pada tahun 1970-an, dengan inflasi yang telah membalikkan 75 persen dari penduduk AS melawannya.
Pertarungan antara Belgia dan AS di lapangan hijau terjadi dalam kompetisi sepak bola Piala Dunia. Belgia berhasil mengeliminasi AS dari kompetisi, yang menyebabkan kekecewaan besar bagi pendukung AS. Trump, yang dikenal dengan keinginannya untuk menang, mencoba untuk mempengaruhi FIFA agar membatalkan kartu merah yang diberikan kepada pemain AS, Folarin Balogun. Namun, upaya ini gagal dan malah menyebabkan kemarahan dari masyarakat internasional.
Sementara itu, di kancah politik, Trump juga menghadapi kesulitan. Ia telah kehilangan dukungan dari banyak penduduk AS karena kebijakannya yang kontroversial. Ia juga telah kehilangan kesempatan untuk meningkatkan popularitasnya melalui perayaan kemerdekaan AS, karena perayaan tersebut tidak dapat menarik perhatian banyak orang. Sebaliknya, pemakaman Ayatollah Khamenei di Iran menarik perhatian lebih dari 15 juta orang, yang menunjukkan bahwa Iran masih memiliki pengaruh besar di wilayah tersebut.
Kesimpulan dari pertarungan antara Belgia dan AS ini adalah bahwa AS masih memiliki banyak pekerjaan rumah untuk dilakukan dalam hal politik dan ekonomi. Trump perlu memperbarui kebijakannya dan meningkatkan popularitasnya jika ingin berhasil dalam pemilu mendatang. Sementara itu, Belgia telah menunjukkan bahwa mereka adalah tim sepak bola yang kuat dan dapat bersaing dengan tim-tim terbaik di dunia.











